Uniknya Perayaan Hindu Tamil Navagram di Jakarta


 


Bertepatan dengan perayaan Imlek hari Sabtu kemarin, saya punya pengalaman yang unik dan berbeda, yaitu mengikut perayaan Navagram, perayaan tahunan umat Hindu Tamil di Kuil Shiva Mandir, Pluit. Saya tahu acara ini dari seorang kawan keturunan India asal Medan, Sri Ratika yang sekarang tinggal di Jakarta. Menurut ceritanya, perayaan Navagram ini kalo di Medan sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat umum dan juga dihadiri banyak media. Karena itu saya begitu penasaran untuk datang.


Sesampainya di Kuil Shiva Mandir, saya cukup kaget karena dari luar ternyata kuil ini terlihat mencolok dengan patung pagoda tinggi yang biasa dijumpai di kuil kuil Hindu India. Ternyata letak Kuil Shiva Mandir ini pun bersebelahan dengan Klenteng Chandra, saya takjub melihat dua rumah ibadah berbeda agama letaknya benar benar berbagi tembok seperti disana. Dari luar , suasana Klenteng begitu ramai yang sedang merayakan Imlek. 

Begitu masuk ke dalam kuil Shiva Mandir, saya juga kaget melihat Kuil ini begitu besar dan luas. Sebelum masuk ke  bagian dalam tempat ibadah, saya diharuskan melepas alas kaki dan membasuh tangan. Melepas alas kaki dan penyucian diri sebelum beribadah ini sama seperti tata cara beribadah di Islam.  Saat berada di dalam kuil, saya merasa seperti bukan di Jakarta, tapi seperti berada di India atau Malaysia gitu, karena begitu banyaknya orang orang India atau keturunan India sejauh mata memandang  


Acara Navagram ini berarti “Sembilan Planet” (dari kata Nava/ Nawa = sembilan dan Gram = Planet), yang bertujuan untuk penyucian diri dan juga mendoakan keselarasan dan keselamatan semesta yang terdiri dari sembilan planet. Wah, saya pikir kok mulia sekali orang orang Hindu ini ya,  sampai ada perayaan khusus untuk mendoakan keselamatan sembilan planet dan semesta alam. Sedangkan saya sendiri kalau berdoa,  mana kepikiran untuk mendoakan keselamatan bumi, apalagi sampe kesembilan planet 

Upacara  Navagram ini dipimpin oleh seorang pendeta utama yang menggunakan  elemen (air, api, tanah, udara) dalam prosesi  dan mengucapkan mantra mantra berbahasa Sansekerta, dan di sekelilingnya ada pendeta pendeta lain yang menjaga ke sembilan topeng terbuat dari alumnium sebagai simbol dari kesembilan planet.  Lalu para jemaat yang hadir ikut berdoa yang dipimpin oleh pendeta. 


Prosesi upacara mendoakan sembilan planet ini berlangsung sekitar 2 jam. Selama prosesi upacara berlangsung, saya menyempatkan untuk berkeliling melihat lihat Kuil Shiva Mandir.Sebelumnya saya pernah masuk ke beberapa kuil Hindu di daerah Pasar Baru, tapi ukurannya kecil dan patung patung Dewa/ Dewi disana tidak sebanyak dan beragam karena kuil yang pernah saya kunjungi biasanya hanya mencakup satu aliran tertentu. 

Dari kawan saya , Tika, saya mengetahui bahwa Kuil Shiva Mandir ini adalah Kuil Hindu Tamil yang terbesar di Jakarta, disini pula ada semua macam patung Dewa/ Dewi yang melingkupi semua macam aliran Hindu, seperti Sai Baba, Hare Kreshna, dan lain lain. Gak heran dalam perayaan tahunan seperti Navagram ini, Kuil Shiva Mandir ini dipadati orang orang Hindu dari penjuru Jakarta. Bahkan banyak juga umat yang datang adalah orang orang Hindu expatriat dari Malaysia atau  Singapura. 
                                        (patung perwujudan Rama dan Sinta)


Di perayaan Navagram ini saya juga sempat melihat pengunjung berwajah wajah Tionghoa yang ikut berdoa di patung dewa/ dewi disana.  . Sepengetahuan saya, ritual ibadah orang Tionghoa (Kong Hu Cu) memang banyak yang mirip dengan ritual ibadah orang Hindu Tamil, seperti adanya patung perwujudan dewa/ dewi, membakar Hio/ Dupa, dan lain lain. Dan Menurut cerita Tika, di Kuil itu memang seringkali dikunjungi orang orang Tionghoa, yang habis selesai beribadah di Klenteng sebelahnya, lalu lanjut berdoa lagi ke Kuil Shiva Mandir. Wah tampaknya mereka senang sekali berdoa ya, saya benar benar salut



Disana saya sempat juga berkenalan dengan seorang Tionghoa yang belum lama pindah agama menjadi Hindu .  Ia menolak  untuk di wawancara oleh kru TV ingin memawancarai pengunjug perayaan  Navagram. Ternyata orang tersebut masih merahasiakan keputusannya menjadi Hindu dari pihak keluarganya..  Hmm...saya bayangkan, keputusan untuk pindah ke suatu agama pastilah mengalami pergolakan batin, dan bagi sebagian orang itu mungkin mendapatkan pertentangan kuat dari keluarga.  

Dan yang benar benar paling saya suka dari perayaan ini adalah bagian makan makan ..hehehe...saya juga tadinya tidak menyangka loh, ternyata di Perayaan Navagram ini makan makan adalah bagian dari prosesi perayaannya.  Para pengunjung disediakan makanan yang kesemuanya adalah vegetarian, ala Restoran juga ala Homemade.  Makanan khas India seperti Samosa, aneka sayur kacang merah, chappati hingga Chai Tea (teh rempah khas India) disediakan dengan jumlah berlimpah. Ini benar benar surga...kapan lagi makan makanan India gratis dan sepuasnya....

 Menurut saya sebagai seorang Tourist Guide, acara perayaan Hindu Tamil seperti ini menarik sekali dan menunjukkan kekayaan dan keragaman budaya di Jakarta,  acara seperti ini bagus banget kalo bisa dijadikan agenda pariwisata budaya oleh Pemda DKI.  

Acara Navagram kemarin juga diliput oleh acara Net12 di NetTV, video hasil liputannya bisa dilihat disini, ada saya diwawancara sebagai narasumber loh..hehehe





Bertepatan dengan perayaan Imlek hari Sabtu kemarin, saya punya pengalaman yang unik dan berbeda, yaitu mengikut perayaan Navagram, perayaan tahunan umat Hindu Tamil di Kuil Shiva Mandir, Pluit. Saya tahu acara ini dari seorang kawan keturunan India asal Medan, Sri Ratika yang sekarang tinggal di Jakarta. Menurut ceritanya, perayaan Navagram ini kalo di Medan sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat umum dan juga dihadiri banyak media. Karena itu saya begitu penasaran untuk datang, karena cara ibadah dan perayaan orang orang Hindu Tamil cukup berbeda dengan umat Hindu di Bali. Sesampainya di Kuil Shiva Mandir di Jl. Pluit Selatan, saya cukup kaget karena dari luar ternyata kuil ini terlihat mencolok dengan patung pagoda tinggi yang biasa dijumpai di kuil kuil Hindu India. Ternyata letak Kuil Shiva Mandir ini pun bersebelahan dengan Klenteng Satya Dharma, saya takjub melihat dua rumah ibadah berbeda agama letaknya benar benar berbagi tembok ini pemandangan langka di Jakarta. Dari luar , suasana Klenteng begitu ramai yang sedang merayakan Imlek. DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI (Pagoda Kuil Shiva Mandir) DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI (suasana luar Klenteng Vihara Satya Dharma) Begitu masuk ke dalam kuil Shiva Mandir, saya juga kaget melihat Kuil ini begitu besar dan luas. Sebelum masuk ke bagian dalam tempat ibadah, saya diharuskan melepas alas kaki dan membasuh tangan. Melepas alas kaki dan penyucian diri sebelum beribadah ini sama seperti tata cara beribadah di Islam. Saat berada di dalam kuil, saya merasa seperti bukan di Jakarta, tapi seperti berada di India atau Malaysia gitu, karena begitu banyaknya orang orang India atau keturunan India sejauh mata memandang Acara Navagram ini berarti “Sembilan Planet” (dari kata Nava/ Nawa = sembilan dan Gram = Planet), yang bertujuan untuk penyucian diri dan juga mendoakan keselarasan dan keselamatan semesta yang terdiri dari sembilan planet. Wah, saya pikir kok mulia sekali orang orang Hindu ini ya, sampai ada perayaan khusus untuk mendoakan keselamatan sembilan planet dan semesta alam. Sedangkan saya sendiri kalau berdoa, mana kepikiran untuk mendoakan keselamatan bumi, apalagi sampe kesembilan planet J Upacara Navagram ini dipimpin oleh seorang pendeta utama yang menggunakan elemen (air, api, tanah, udara) dalam prosesi dan mengucapkan mantra mantra berbahasa Sansekerta, dan di sekelilingnya ada pendeta pendeta lain yang menjaga ke sembilan topeng terbuat dari alumnium sebagai simbol dari kesembilan planet. Lalu para jemaat yang hadir ikut berdoa yang dipimpin oleh pendeta. 20170128-105847-588e05d482afbdb90a5791e6 20170128-105847-588e05d482afbdb90a5791e6 DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI Prosesi upacara mendoakan sembilan planet ini berlangsung sekitar 2 jam. Selama prosesi upacara berlangsung, saya menyempatkan untuk berkeliling melihat lihat Kuil Shiva Mandir.Sebelumnya saya pernah masuk ke beberapa kuil Hindu di daerah Pasar Baru, tapi ukurannya kecil dan patung patung Dewa/ Dewi disana tidak sebanyak dan beragam karena kuil yang pernah saya kunjungi biasanya hanya mencakup satu aliran tertentu. Dari kawan saya , Tika, saya mengetahui bahwa Kuil Shiva Mandir ini adalah Kuil Hindu Tamil yang terbesar di Jakarta, disini pula ada semua macam patung Dewa/ Dewi yang melingkupi semua macam aliran Hindu, seperti Sai Baba, Hare Kreshna, dan lain lain. Gak heran dalam perayaan tahunan seperti Navagram ini, Kuil Shiva Mandir ini dipadati orang orang Hindu dari penjuru Jakarta. Bahkan banyak juga umat yang datang adalah orang orang Hindu expatriat dari Malaysia atau Singapura. DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI DOKUMENTASI PRIBADI (Patung patung simbolisasi Rama dan Sinta) Di perayaan Navagram ini saya juga sempat melihat pengunjung berwajah wajah Tionghoa yang ikut berdoa di patung dewa/ dewi disana. . Sepengetahuan saya, ritual ibadah orang Tionghoa (Kong Hu Cu) memang banyak yang mirip dengan ritual ibadah orang Hindu Tamil, seperti adanya patung perwujudan dewa/ dewi, membakar Hio/ Dupa, dan lain lain. Dan Menurut cerita Tika, di Kuil itu memang seringkali dikunjungi orang orang Tionghoa, yang habis selesai beribadah di Klenteng sebelahnya, lalu lanjut berdoa lagi ke Kuil Shiva Mandir. Wah tampaknya mereka senang sekali berdoa ya, saya benar benar salut 20170128-115500-588e071a81afbd1b0bece22e 20170128-115500-588e071a81afbd1b0bece22e 20170128-110146-588e07401493731309ed94eb 20170128-110146-588e07401493731309ed94eb Disana saya sempat juga berkenalan dengan seorang Tionghoa yang belum lama pindah agama menjadi Hindu . Ia menolak untuk di wawancara oleh kru TV ingin memawancarai pengunjug perayaan Navagram. Ternyata orang tersebut masih merahasiakan keputusannya menjadi Hindu dari pihak keluarganya.. Hmm...keputusan untuk pindah ke suatu agama pastilah mengalami pergolakan batin, dan bagi sebagian orang itu berarti mendapatkan pertentangan kuat dari keluarga. Dan yang benar benar paling saya suka dari perayaan ini adalah bagian makan makan ..hehehe...saya juga tadinya tidak menyangka loh, ternyata di Perayaan Navagram ini makan makan adalah bagian dari prosesi perayaannya. Para pengunjung disediakan makanan yang kesemuanya adalah vegetarian, ala Restoran juga ala Homemade. Makanan khas India seperti Samosa, aneka sayur kacang merah, chappati hingga Chai Tea (teh rempah khas India) disediakan dengan jumlah berlimpah. Ini benar benar surga...kapan lagi makan makanan India gratis dan sepuasnya.... 20170128-112241-588e07504f7a61a81f92e080 20170128-112241-588e07504f7a61a81f92e080 20170128-113840-588e0786507a619b05fa9e4c 20170128-113840-588e0786507a619b05fa9e4c Menurut saya sebagai seorang Tourist Guide, acara Navagram ini menarik sekali sebagai kekayaan dan keragaman budaya di Jakarta. Acara Navagram kemarin juga diliput oleh acara Net12 di NetTV, video hasil liputannya bisa dilihat di video dibawah, ada saya diwawancara sebagai narasumber loh.. hehehe kuil-588e08e24f7a61122092e06b.jpg kuil-588e08e24f7a61122092e06b.jpg (Saya, Tika, dan Indri - Reporter NetTV)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iralathief/melihat-uniknya-navagram-perayaan-hindu-tamil-di-jakarta_588e0985149373470aed94d2

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini




Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia? 

Di kampung inilah bermukim orang orang Indonesia keturunan Portugis yang sudah mendiami kota ini sejak abad ke-17. Dari kampung inilah juga asal muasal musik keroncong yang kini dikenal sebagai musik tradisional Indonesia. 


Nama kampung itu adalah Kampung Tugu, atau juga dijuluki sebagai Portuguese Village yang terletak di kawasan Semper, Jakarta Utara. Banyak orang Jakarta sendiri tidak ngeh dengan keberadaan kampung ini, yang saat ini dikepung oleh banyaknya kontainer dan truk truk berseliweran. Padahal masyarakat di Kampung Tugu punya banyak kekayaan budaya yang begitu unik dan tidak ditemukan di tempat lain. 

Hari Minggu di awal tahun ini (8 Januari), saya datang ke Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu. Ini adalah ritual tahunan yang diadakan tiap minggu pertama di awal tahun. Tujuan dari Upacara Mandi-mandi ini adalah silahturahmi untuk saling memaafkan, agar setiap orang bisa menjalani tahun baru yang penuh sukacita. Upacara Mandi-mandi diisi dengan prosesi berdoa bersama, lalu saling melumuri bedak basah ke wajah orang lain, sambil diiringi dengan alunan musik keroncong dan juga menari nari bersama. Walaupun tempat tinggal saya sangat dekat dengan Kampung Tugu, tapi ini baru pertama kalinya menghadiri Perayaan Mandi-mandi di Kampung Tugu. Saya mendapatkan informasi tentang acara ini, karena tahun lalu pernah mengadakan kegiatan food tour ke Kampung Tugu bersama Jakarta Food Adventure. 


Mandi-mandi tahun ini di Kampung Tugu ternyata begitu spesial. Saya pun takjub begitu menginjakkan kaki di lokasi dan mengetahui begitu banyak undangan orang penting VVIP yang hadir, dari mulai Duta Besar negara Timor Leste, hingga Xanana Gusmao, mantan Presiden Timor Leste. Acara ini pun sangat banyak dihadiri oleh wartawan dan juga wisatawan lokal yang datang dari penjuru Jakarta. Tampaknya acara mandi-mandi tahun ini begitu dipromosikan secara besar besaran. 


Keberadaan Xanana Gusmao di acara ini begitu mencolok dan memikat hati banyak orang dan pengunjung. Bukan karena ia adalah tokoh VVIP, tapi karena sebagai "orang besar" ia begitu ramah dan hangat kepada semua orang yang hadir. Sejak memberikan sambutan di atas panggung, Xanana “berpidato” dengan sangat santai dan juga banyak candaan. Lalu ketika Upacara Mandi-mandi dimulai dengan mulai membedaki wajah masing masing, Xanana pun juga tampak sangat membaur dengan dengan membedaki wajah banyak orang, juga membiarkan orang lain membedaki wajahnya. Orang orang juga dengan mudahnya mengajak Xanana berselfie ria dengan akrab. Sepanjang acara, Xanana juga ikut bernyanyi, menari, dan tampak sangat menikmati berbaur dengan semua orang di sana. Tidak hanya Xanana, tapi semua orang yang hadir di sana memang tampak bergembira ria bersama. 




Di sela sela acara, panitia juga telah menyiapkan santapan untuk para hadirin, dan kami pun bisa mencicipi aneka masakan seperti gado-gado siram hingga kue pisang udang yang merupakan makanan khas Kampung Tugu. Wah kapan lagi bisa hadir di perayaan budaya yang seru sekaligus mencicipi kuliner khasnya? Dokumentasi Pribadi Dokumentasi Pribadi Sayangnya menurut saya, keberadaan Kampung Tugu juga Perayaan Mandi-mandi seperti ini selama ini kurang begitu dipromosikan sebagai kekayaan budaya di Jakarta. Padahal acara seperti ini bagus sekali untuk dipromosikan sebagai atraksi budaya yang mendatangkan banyak wisatawan lokal/asing. 



Saat di perayaan Mandi Mandi ini, saya mendengar ada seorang wisatawan yang bilang, acara ini lebih seru dibandingkan Festival Songkran (festival tembak-tembakan air) di Bangkok yang begitu terkenal di kalangan para turis. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari salah satu orang Kampung Tugu, acara tahun in mendapatkan sponsor/dana dari Xanana Gusmao/Timor Leste, yang saat ini menjadi penggerak perhimpunan komunitas Portugis di Asia Pasifik. Karena itu perayaan tahun ini bisa dibilang begitu meriah. Saya sangat terkesan mendengar ini, mengingat dahulu saat Timor Timor masih bergabung dengan Indonesia, Xanana Gusmau sebagai pemimpin gerilyawan adalah musuh besar penguasa rezim Orde Baru selama puluhan tahun. Tapi setelah Timor Timor lepas dari Indonesia dan Xanana Gusmao menjadi Presiden pertama negara Timor Leste, tampaknya Xanana Gosmao aktif menjalin kembali hubungan baik dengan Indonesia. 



Saya jadi teringat, 10 tahun lalu pernah menonton film dokumenter tentang Xanana Gosmao (Xanana) yg dibuat oleh seorang filmmaker dari Amerika, yang menceritakan biografi perlawanan Xanana dengan tentara Indonesia, perjuangannya membawa Timor Leste merdeka hingga akhirnya berusaha menjalin hubungan kembali (rekonsiliasi) dengan Indonesia. Di film itu juga ditunjukkan saat Xanana mau mengunjugi kembali Rutan Salemba, tempat ia pernah ditahan sebagai tahanan politik. Di akhir film, sang sutradara menanyakan kenapa Xanana mau berhubungan kembali dengan Indonesia, dan juga orang orang yang selama ini selalu memusuhinya. Saya ingat, jawaban Xanana di akhir film itu benar benar membekas di ingatan saya. Kira kira ia menjawab seperti ini, “Saya tak ingin hidup terus dikuasai rasa dendam dan kebencian. Saya ingin menjadi contoh bagi rakyat Timor Leste, bahwa kita harus bisa saling memaafkan, untuk bisa terus melanjutkan hidup dengan hati yang lapang.” 



Banyak orang yang hidup dengan memelihara rasa dendam dan benci, padahal itu seperti halnya meminum racun, tapi berharap orang lain yang perlahan mati. Memaafkan orang lain tidak berguna bagi orang yang kita maafkan, tapi justru berguna bagi kelanjutan hidup kita sendiri. Hari itu, dengan kehadiran Xanana Gusmao di Upacara Mandi-mandi Kampung Tugu yang bertujuan memulai tahun baru dengan saling memaafkan, saya benar benar mendapatkan hikmah yang mendalam tentang memaafkan. Terima Kasih Kampung Tugu, sudah mengajarkan saya tentang Memaafkan untuk memulai hidup baru di awal tahun yang baru.

"Memaafkan tidak bisa dilakukan oleh orang yang lemah. Memaafkan hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang kuat." (Mahatma Gandhi)

Beduk, Baju Koko dan Pengaruh bangsa Cina dalam budaya Islam di Indonesia


Sudah tahukah Anda, budaya Islam di Nusantara, selain banyak terpengaruh dari bangsa Arab, juga punya pengaruh kuat dari bangsa Cina?
Mantan Presiden BJ Habibie pernah mengatakan bahwa agama Islam adalah hadiah terbesar dari bangsa Cina untuk Indonesia, yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho di abad 13 masuk ke Nusantara, dan lalu ikut disebarluaskan oleh Wali Songo yang sebagian adalah keturunan Tionghoa.
Akulturasi budaya Cina dan Islam di Nusantara contohnya bisa dilihat dari penggunaan Beduk dan juga baju Koko. Bahkan di masyarakat Betawi, pakaian adat pengantinnya adalah perpaduan akulturasi budaya Arab (pengantin pria) dan budaya Cina (pengantin wanita).

Beduk yang kita dapati dalam mesjid mesjid Indonesia untuk panggilan azan adalah ciri khas Indonesia. Coba saja ke mesjid mesjid di luar negri tidak akan ada beduk disana. Bahkan di Afrika, penggunaan bedug untuk Azan di anggap HARAM.


                                         (Ketua MPR Tiongkok memukul beduk di Mesjid Istiqlal)

Lalu sejak kapan beduk ada di mesjid mesjid Nusantara?Beberapa literatur meyakini bedug tiba di bumi Nusantara seiring kedatangan Cheng Ho. Laksamana Muslim dari Diniasti Ming itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Selain itu suara bedug yang keras akan membantu panggilan Azan untuk masyarakat sekitar mesjid.
Saat saya membawa turis turis berkunjung ke Mesjid Istiqlal, mereka selalu kagum melihat beduk raksasa disana. Banyak turis turis yang saya bawa sudah pernah keluar masuk ke Mesjid di negara negara lain, tapi baru di Indonesia mereka melihat ada Beduk di dalam mesjid. Apalagi setelah saya ceritakan panjang lebar tentang Beduk, tambah kagum lagi mereka.

Lalu bagaimana ceritanya baju Koko dapat pengaruh dari bangsa Cina?
Baju koko berasal dari baju Tui-Khim, pakaian khas sehari hari dengan leher tinggi yang biasa dipakai orang orang keturunan Cina di Batavia (Jakarta). Di kalangan orang Betawi, baju Tui-khim ini lalu dikenal dengan sebutan baju Tikim. Dan orang orang Betawi inilah yang lalu mempopulerkan baju Koko hingga saat ini dikenal sebagai pakaian khas umat Muslim di Indonesia.



Lalu bagaimana hubungannya baju Tikim menjadi baju koko? Itu karena dulunya yang memakai baju tui-khim itu engkoh-engkoh –sebutan umum bagi lelaki Tionghoa– maka baju ini pun disebut baju engkoh-engkoh, dan oleh orang Betawi sebutannya sedemikian rupa berubah jadi baju KOKO.
Bahkan orang Betawi yang terkenal sebagai penganut Islam yang kuat , baju adat pengantin nya pun terpengaruh oleh percampuran budaya Arab (pengantin pria) dan budaya Cina (pengantin wanita).


Begitu banyaknya pengaruh bangsa Cina mengakulturasi dalam budaya Islam di Nusantara. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan BJ Habibie di atas. Kita mesti berterima kasih dengan bangsa Cina dalam membawa pengaruh luas dalam perkembangan budaya Islam di Indonesia. Jadi kalau ada umat Muslim di Indonesia yang anti Cina, apalagi sampai menuding bahwa semua orang Cina adalah Kafir, semestinya lebih banyak lagi belajar dan berkaca dari sejarah.
Begitupun pada urusan makanan yang jadi konsumsi perut kita sehari hari, begitu banyak pengaruh bangsa Cina pada kekayaan kuliner nusantara dari mulai aneka Mie, aneka soto, hingga Somay, Dan  kalau bahas ini bisa lebih panjang lagi ceritanya, bakal ga habis habis tulisan ini.
Jangan jangan kita semua orang Indonesia punya darah Cina, barang setitik atau dua titik?

Baca Juga Yang Satu Ini

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...