Monumen Cinta di Kebun Raya Bogor - Kisah Romantis antara Sir Thomas Raffles dan Olivia



  
"Jangan Pernah Lupakan Aku"

Kalau berkunjung ke Kebun Raya Bogor, di bagian depan dekat pintu masuk utama, ada sebuah bangunan monumen yg cantik. Ternyata monumen itu menyimpan kisah cinta yang sangat menginspirasi. Saat membawa Walking Tour bersama Jakarta Good Guide piknik ke Bogor, monumen Lady Raffles ini termasuk tempat yang paling memikat perhatian para peserta Tur di kelompok saya. 

Seberapa penting peran Lady Raffles sampai ia perlu diabadikan dalam sebuah monumen ?

Maukah kamu mendengar kisah cinta romantis antara Raffles dan sang belahan jiwa? Jadi begini ceritanya.

Ketika Inggris menaklukan Belanda tahun 1811, Sir Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda (Indonesia). Olivia yang sudah menjadi Lady Raffles mendampingi sang suami berkuasa di Jawa.

Sir Thomas Raffles dikenal sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda yang sukses. Di bawah kepemimpinannya, ia juga punya banyak jasa besar,yang hingga kini masih bisa dirasakan rakyat Indonesia, seperti menemukan kembali Borobudur (yang sempat hilang tersembunyi dalam hutan belantara selama 5 abad), hingga menggagas cikal bakalya Kebun Raya Bogor. Raffles yang dikenal sangat mencintai tanah Jawa, termasuk alam dan budayanya, juga banyak mendokumentasikan catatan penting tentang tanah Jawa termasuk menghasilkan karya buku penting berjudul "The History of Java". 




Selain sukses memimpin Hindia Belanda, Raffles juga dikenal sebagai pendiri Kebun Binatang London, pendiri Singapura, juga penemu bunga bangkai Rafflesia Arnoldi. Bagi warga Singapura, Rafles adalah seorang pahlawan besar, karena ia adalah "mastermind" dibalik berdirinya Singapura yang modern. Tapi dari semua wilayah yang pernah dipimpinnya, Raffles paling mencintai tanah Jawa, dan konon ia menangis saat menyelesaikan tugasnya di tanah Jawa, dan harus berpindah tugas ke tempat lain. Di tanah Jawa ini pula ia memiliki banyak kenangan indah bersama Olivia, sang istri yang begitu dicintainya.
Olivia Mariamne Devenish, merupakan istri pertama dari Raffles. Ketika menikah dengan Raffles di tahun 1805, itu merupakan pernikahannya yang ke-2 setelah suami pertamanya meninggal di tahun 1800. Pada saat menikah dengan Raffles, ia berusia 10 tahun lebih tua dibandingkan suaminya. Peran Olivia begitu besar, bukan saja sebagai istri, tapi juga sebagai partner sehati yang mendukung misi misi sang Gubernur Jendral, yang dikenal sangat dekat dengan penduduk lokal di setiap wilayah yang dipimpinnya

Selama menjadi First Lady, Olivia bukan sekedar hanya mendampingi. Menurut banyak catatan sejarah Lady Raffles ikut berperan dalam berbagai hal. Salah satu diantaranya adalah perannya dalam melakukan reformasi sosiial di Pulau Jawa / Hindia Belanda. Di masa itu, wanita-wanita kulit putih membatasi diri mereka dari pergaulan dengan orang pribumi dan etnis lainnya. Hanya batasan ini didobrak oleh Lady Raffles dengan mengadakan resepsi-resepsi yang mengundang orang dari berbagai etnis.

Olivia juga sering melakukan berbagai kunjungan ke penguasa-penguasa lokal yang ada di daerah kekuasaan suaminya. Sesuatu yang belum pernah diakukan oleh istri-istri penguasa-penguasa sebelumnya.Tindakan-tindakan sang Lady ini sejalan dengan pemikiran dan usaha yang dilakukan suaminya. Sir Thomas Stamford Raffles dikenal sebagai tokoh yang menentang perbudakan dan mencetuskan berbagai usaha reformasi sosial di setiap wilayah yang dipimpinnya. 

Namun karena sering blusukan ke berbagai pelosok daerah, Oliva terjangkit penyakit malaria yang memang saat itu mewabah di tanah Jawa.Untuk kesembuhan sang istri, Rafles pun memboyong sang istri dari Batavia ke Bogor , dan tinggal di Istana Bogor, yang saat itu adalah rumah peristirahatan Gubernur Jendral Hindia Belanda. 

Karena itu, Raffles merenovasi istana Bogor dengan secantik mungkin. Raffles yang juga senang dengan alam, membuat taman dan kebun di halaman belakang istana Bogor (yang kemudian menjadi cikal bakal dari Kebun Raya Bogor). Selama tinggal di istana Bogor, Raffles sering membawa Olivia berjalan jalan menikmati rindangnya pepohonan yang teduh di sekitar istana.
Namun sangat disayangkan, Olivia akhirnya berpulang dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Raffless. Olivia Mariamne Raffles atau Lady Raffles wafat tiga tahun setelah datang ke Indonesia. Penyakit Malaria merenggut nyawanya tahun 1814 setelah sakit beberapa bulan. Olivia meninggal di usia 43 tahun, dan Rafless baru berusia 33 tahun saat itu. Jasad Olivia dibawa ke Batavia dan dikuburkan di pemakaman yang kini dikenal sebagai Museum Taman Prasasti, Tanah Abang.

Walaupun Olivia dan Rafles tidak memiliki anak , namun Raffles terus mengenang Olivia bahkan hingga akhirnya Raffles menikah kembali. Monumen yang dibangun di Kebun Raya ini adalah salah satu bukti dari keabadian Cinta Raffles untuk sang istri yang begitu dikasihinya.

Tertulis dalam monumen tersebut, adalah ungkapan terdalam Raffles yang begitu menggugah hati:

Oh thou whom neer my constant heart ;
(Kamu yang selalu berada di hatiku)
One moment hath forgot ;
(Tak pernah sedikitpun kulupakan)
Tho fate severe hath bid us part ;
(Walaupun takdir memisahkan kita)
Yet still – forget me not
(Janganlah pernah lupakan aku)

Berkunjung ke Rumah Kastil Raden Saleh, sang sosialite dunia abad 19 -




Jauh sebelum era internet seperti sekarang yang bikin siapa aja bisa eksis dengan mudah ke jagat dunia, Indonesia (dulu Hindia Belanda) sudah punya sosok "seleb dunia", yaitu Raden Saleh seorang Pelukis keturunan Arab- Jawa, yang pernah tinggal selama 20 tahun di Eropa (Belanda, Jerman , dan Prancis) yang karya karya lukisannya dikenal di daratan Eropa.

Lukisan Raden Saleh banyak dikagumi oleh para Gubernur Jendral di Hindia Belanda,  Keluarga Raja Raja di Eropa, hinga kalangan aristokrat Eropa,  hingga membuat Raden Saleh dihargai sangat mahal dan membuat Raden Saleh bisa bergelimang harta. Bahkan hingga saat ini pun lukisan lukisan karya Raden Saleh terus diburu oleh para kolektor seni dunia. 



                                             *Raden Saleh, sang sosialite dunia dari Jawa*

Sepulang dari Eropa, Raden Saleh membeli sebidang tanah maha luas di Cikini dan membangun rumah sangat megah yang menyerupai kastil. Rumah kastil ini dibangun menyerupai Istana Callenberg di Jerman, dimana ia dulu pernah tinggal. Saat jaman penjajahan Belanda, gak sembarangan orang bisa membangun rumah semegah seperti yang dimiliki Raden Saleh. Tanah yang mengelilingi bangunan rumah kastil Raden Saleh pun sedemikian luas, hingga ke area yang sekarang menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jl. Cikini Raya. Di area itulah, Raden Saleh membangun kebun binatang mini yang nantinya menjadi cikal bakal dari Kebon Binatang Ragunan saat ini.




             *Bekas Rumah Kastil Raden Saleh, saat ini menjadi bagian kantor dari RS PGI Cikini*


Siapakah sebenarnya Raden Saleh dan bagaimanakah ia sampai bisa melanglang ke benua Eropa dan bergaul dengan kalangan elit dan aristokrat Eropa?  Raden Saleh Sjarif Boestaman (Lahir 1811, meninggal  23 April 1880)  adalah pelukis beretnis Jawa- Arab   yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis. Beberapa hasil lukisan Raden Saleh yang fenomenal adalah "Penangkapan Diponegoro", "Berburu Singa", dan berbagai lukisan potret Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat.  Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di Sekolah Rakyat  (Volks-School) di Batavia. Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda   dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda. Berkat kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, yang mengetahui bakat melukis Raden Saleh, ia diarahkan untuk berguru seni lukis kepada AAJ Payen, seorang Pelukis asal Belgia yang saat itu bekerja sebagai Pelukis resmi untuk pemerintah Hindia Belanda di Jawa.  AAJ Payen pun mengajak Raden Saleh berkeliling Pulau Jawa untuk mencari obyek obyek lukisan yang menarik.  Terkesan dengan bakat anak didiknya yang luar biasa, Payen pun  mereferensikan Raden Saleh kepada Gubernur Jendral Van der Capellen untuk mendapatkan beasiswa ke Belanda  untuk mendalami seni lukis.

Di Belanda, Raden Saleh banyak berguru dengan Krusseman, pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah  Belanda dan keluarga kerajaan. Raden Saleh pun makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan  Amsterdam . Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat. Setelah masa pendidikannya selesai, Raden Saleh mengajukan perpanjangan tinggal karena ingin lebih mendalami banyak teknik seni lukis, yang disetujui Pemerintah Belanda, dengan syarat biaya beasiswa pendidikannya dihentikan.

Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu ke Dresden , Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman. Raden Saleh kembali ke Belanda tahun 1884, dan selanjutnya bekerja menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.

Saat di Eropa, Raden Saleh juga menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Prancis ,  yang mau tak mau memengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi:  Austria dan Italia.  Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istri pertamanya, wanita Belanda yang kaya raya.Tapi pernikahan ini tidak bertahan lama.

Raden Saleh menikah kedua kalinya dengan Raden Ayu Danudirdja yang berasal dari Bogor (Buitenzorg).   Setelah menikah dan pindah ke Bogor, Raden Saleh menjual tanah maha luas dan rumah kastil itu ke keluarga Alatas, hingga dulu di kawasan Cikini dikenal sebagai Alatas Land. Bersama keluarga barunya, Raden Saleh menghabiskan masa tuanya di Bogor hingga meninggal, dan dimakamkan di Kampung Empang, Bogor.  Koran Javanese Bode melaporkan, pemakaman Raden "dihadiri banyak tuan tanah dan pegawai Belanda, serta sejumlah murid penasaran dari sekolah terdekat."

Jauh setelah Raden Saleh meninggal, Raden Saleh terus menerima begitu banyak penghargaan, baik dari dalam negri maupun di luar negri.  Penghargaan tertinggi dari pemerintah Indonesia diberikan pada tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara Anumerta ,  berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia.  Makam Raden Saleh di Bogor juga dipugar atas perintah langsung dari Presiden Soekarno. Dan karena kiprahnya yang begitu luas dikenal di dunia seni lukis global, di tahun 2008 sebuah  kawah  di planet Merkurius dinamai darinya. Ruaar biasaaa...

Sedangkan Rumah Kastil Raden Saleh di Cikini masih berdiri tegak. Setelah sempat beberapa kali berpindah kepemilikan, kini "Rumah Kastil" Raden Saleh di daerah Cikini ini menjadi bagian dari kantor RS PGI Cikini, dengan kondisi bagian luar yang tidak banyak berubah. Karena sudah menjadi bagian kantor, masyarakat umum bisa melihat rumah kastil ini hanya dari bagian depan saja.

Kalo kamu sedang di kawasan Cikini, sempatkanlah mampir liat "Rumah Kastil Raden Saleh", dijamin kamu akan terkagum kagum dengan bangunan ini, juga dengan kiprah Raden Saleh, sang sosialite dunia asli pribumi yang namanya bisa mendunia karena lukisannya.

#AwesomePlaceJakarta #CeritaTourGuide

Buku Kumpulan Lirik - My 1st Masterpiece






Kata orang, hobi atau hal yang kita senang lakukan sejak kecil, jika terus dipupuk bisa jadi panggilan hidup di kemudian hari.

Jaman SMP dulu, saya mulai seneng ngumpulin lirik lagu dalam buku, yang di tulis ulang dan hias sekreatif mungkin. Jaman dulu kan belum ada internet, ga gampang cari lirik lagu yg tinggal browsing kayak sekarang. Gara gara buku kumpulan lirik lagu yg saya buat, saya sampe cukup dikenal di kalangan temen temen seangkatan, karena buku kumpulan lirik ini sering dipinjem dan beredar ke kelas kelas lain.







Jadi ceritanya, dulu di Radio Sonora tiap minggu malem ada program "mendiktekan" satu lirik lagu pilihan, dimana penyiarnya membacakan bait per bait lirik lagu. Tiap minggu malam saya ga pernah lewatin acara itu. Dari acara itulah saya bisa dapatin lirik lagu lengkap , yang ternyata juga jadi cara efektif saya untuk belajar bahasa inggris. Selain itu saya juga bisa dapetin lirik sebuah lagu dari Kawanku Still, majalah remaja yg cukup ngehits banget saat itu , yang tiap edisi selalu ada satu lirik lagu pilihan.

Dari awalnya satu buku, buku kumpulan lirik ini sampe ada belasan. Bahkan beberapa sahabat sekolah saat itu Alin Malika dan Najla Unique mau jadi kontributor rutin untuk bantuin nulis lirik lagu di buku ini.
Hobi bikin buku kumpulan lirik lagu ini terus berlanjut hingga jaman SMA. Tapi saat itu mulai banyak dijual buku buku kumpulan lirik di pasaran/ toko buku. Akhirnya hobi bikin buku lirik lagu ini makin berkurang, apalagi saat itu saya makin sibuk main dg temen se-gang dan juga sibuk ama cowok kecengan, jadi perlahan hobi ini pun saya tinggalkan...wkwkwkwk



 


Tapi saya sadar sekarang ternyata dari hobi masa kecil inilah saya merintis karir saya sebagai Penulis Kreatif sampai sekarang. Dan Buku Kumpulan Lirik Lagu ini adalah My 1st Masterpiece ever.

Temans, ingatkah kamu dengan hobi yang senang hati kamu lakukan di masa kecilmu? Jika hal tersebut telah lama ditinggalkan, kenapa ga coba untuk lakukan kembali....mungkin saja panggilan hatimu ada disana.
...."Dimana hatimu berada, disitulah ada hartamu yang tak terhingga"






#CeritaPenulis #WriterStory

Berwisata ke Karet Bivak, Pusara Para Pesohor Negri ini




Berwisata ke Taman Pemakaman ? Kenapa Nggak?  

Banyak TPU (Taman Pemakaman Umum) di Jakarta sudah tidak seperti dahulu lagi yang lekat dengan kesan seram dan spooky. Kini banyak TPU menarik untuk dikunjungi, ditambah juga suasananya yang tambah asri, bersih,  dan nyaman untuk disambangi, layaknya seperti berjalan jalan di Taman. 




Belum lama saya berkunjung ke TPU Karet Bivak, niat awalnya mau mencari pusara Chairil Anwar sang pujangga yang terkenal dengan puisi puisinya yang tak lekang oleh waktu.  Setelah sampai ke tempat ini, ternyata ada banyak hal menarik saya temukan disini. Taman Pemakaman Karet Bivak ini cukup spesial, selain letaknya di pusat Jakarta dan dikelilingi oleh gedung gedung pencakar langit, disini tenyata byk dimakamkan para Pahlawan Nasional dan nama nama pesohor berbaur dengan makam rakyat biasa.



Ada satu pemandangan menarik begitu memasuki kawasan Pemakaman. Dari mulai gerbang masuk, hingga di bagian dalam, banyak terpasang  spanduk resmi pengelola TPU tentang himbauan kepada masyarakat untuk menghindari bayar pungli saat pengurusan makam. Upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memberantas pungli yang dilakukan oleh para "preman"   di berbagai komplek pemakaman di Jakarta memang patut diacungi jempol. 

Makam para Pahlawan Nasional ditandai dengan bendera merah putih di tiap makam. Nama nama besar yang dimakamkan disini antara lain Ibu Fatmawati, Ismail Marzuki, M.Husni Thamrin, Benyamin S, dan Chairil Anwar dll.  Saya "menjelajah" komplek pemakaman ini dengan diantar oleh Pak Ahmad, salah satu penjaga makam yang sudah dua generasi bekerja disana.





Menurut Pak Ahmad, di TPU ini makam Bu Fat dan Chairil Anwar yg paling sering dikunjungi orang dan peziarah. Menurut salah satu penjanga makam, Makam Bu Fat sering dikunjungi dari peziarah dari berbagai daerah, termasuk para simpatisan Partai PDI-P yang sering berkunjung secara rombongan. Sedangkan makam Chairil Anwar, kerap dikunjungi para mahasiswa saat Peringatan Hari Sastra di Bulan April, yang memang diperingati sesuai hari kematian Chairil Anwar, yaitu 28 April.

Makam Chairil Anwar bentuk makamnya sangat unik. Nisan di pusara sang Penyair berbentuk seperti tugu mini yg katanya dibuat untuk menyerupai pena. Tertulis di sisi pusara, Makam tersebut diresmikan pemugarannya kembali oleh Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminta. Di badan tugu maka, terukir sepenggal bait sajak : "Aku ini binatang jalang. Dari kumpulan yang terbuang."

Dari banyaknya makam para pesohor disini,  sebenarnya Pemprov DKI bisa mengangkat TPU Karet Bivak ini sebagai potensi wisata Jakarta dan mempromosikannya sebagai salah satu destinasi wisata alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Taman Pemakaman Pere Lachaise di Paris, yang dikenal sebagai taman pemakaman banyak para pesohor Prancis dan dunia, termasuk Jim Morrison dari The Doors, dan begitu banyak dikunjungi wisatawan. 
Dari jalan jalan di TPU Karet Bivak ini, saya pun dapat inspirasi untuk menulis satu puisi yang saya dedikasikan untuk Chairil Anwar , sebagai berikut 
-Aku Ingin Mengenangmu Seribu Tahun Lagi-

Kepada Engkau yang melampaui waktu.
Kusampaikan rasa rinduku yang menggebu.
Rasa rindu yg kerap menjadi pilu dalam kalbu.


"Tak perlu sedu sedan seperti itu.
Aku hanya binatang jalang, hidupku sekali berarti sudah itu mati", begitu dahulu ujarmu selalu.

Tapi sungguh, aku akan lebih tak perduli
Karena aku ingin mengenangmu untuk seribu tahun lagi






Berkunjung ke Rumah Ahmad Subardjo, Menlu RI Pertama


                         *Cikal Bakal Diplomasi Luar Negri Indonesia berawal dari rumah ini*

Jadi ceritanya waktu lagi memandu Walking Tour Jakarta Good Guide di Cikini, melintas di rumah Ahmad Subarjo (Menteri Luar Negri RI pertama) dan menjelaskan tentang rumah itu ke peserta tur, eh kebetulan si pemilik rumah lagi beberes di halamannya..pas ngeliat kita, eh kita semua malah disuruh masuk...diajak keliling rumah yang jadi cikal bakal Kementrian Luar Negri RI, dan dapat cerita byk langsung dari pak Rohadi Subarjo (anak Ahmad Subarjo).. kebetulan dan keberuntungan yang manis banget....

                                                    Ahmad Subarjo, Menlu Pertama RI

   
Bersama Pak Rohadi Subarjo, anak Ahmad Subarjo


Ceritanya beberapa hari setelah merdeka, Soekarno mengangkat Ahmad Subarjo sebagai Menteri Luar Negri. Saat baru diangkat jadi Menlu, Ahmad Subarjo sadar bahwa akan dihadapi dengan berbagai keterbatasan...kantor aja ga ada, apalagi fasilitas pendukung lainnya....

                   *Di ruang kerja Ahmad Subarjo inilah, diplomasi luar negri RI bermula*


Jadi Ahmad Subarjo memakai ruangan di rumahnya sendiri untuk dijadikan kantor Menlu.. Untuk mencari staf yang membantu, Ahmad Subarjo sampe pasang iklan di koran Asia Raya ..selama berhari hari ditunggu cuma 10 orang yg melamar...hihihi...tapi saat itu Pak Menlu bercita cita, suatu saat nanti institusi yang dipimpinnya bisa solid dalam melakukan Diplomasi Indonesia ke dunia internasional dan akan banyak anak muda Indonesia yg mau bekerja di kantor Deplu. ..wah sepertinya cita cita Pak Ahmad Subarjo sudah tercapai ya, sekarang ini kan sepertinya banyak banget orang pingin bisa bekerja di Deplu.



Menurut Pak Rohadi Subardjo juga, belum lama Kemenlu mengadakan Peringatan Hari Kemerdekaan di rumah itu, menurutnya ini untuk pertamakalinya Kemenlu mengadakan acara resmi disana. Dan keluarga besar mereka sangat apresiasi karena pihak Kemenlu tidak melupakan cikal bakal lokasi bermulanya Diplomasi Indonesia.


Lalu sayup sayup terdengar suara Bung Karno di telingaku: Jasmerah! Jassmerah*


#CeritaTourGuide
*Jassmerah = Jangan sekali sekali melupakan sejarah

Berkunjung ke Sel Soekarno di Penjara Banceuy, Tempat Lahirnya Pledoi Indonesia Menggugat


Saat ikutan special trip Jakarta Food Adventure di Bandung, sang host Idfi Pancani sempat mengajak ke suatu tempat bersejarah yg sangat menarik, yaitu Sel Soekarno di (Ex) Penjara Banceuy Jl. Banceuy.

Di penjara Banceuy, Soekarno muda pernah ditahan penjajah Belanda karena keterlibatannya di Politik untuk menentang penjajahan (imperialisme). Selama satu tahun ditahan di Penjara Banceuy, Soekarno menuliskan Pledoi (Pidato Gugatan) berjudul ”Indonesia Menggugat ”yang dibacakan secara dramatik di sidang pengadilan Laandrad - Bandung dan kemudian menghebohkan hingga ke negeri Belanda. Dari balik jeruji berukuran 2x1 cm di Penjara Banceuy, Soekarno menuliskan sendiri pidato pembelaannya sebanyak ratusan lembar. 







Di tahun 80an, Penjara Banceuy sudah dirobohkan digantikan oleh komplek perniagaan. Untungnya, di tengah kepungan ruko ruko ,sel Soekarno masih dipertahankan hingga sekarang. Di tempat ini, Pengunjung bisa melihat seperti apa sel tempat Soekarno ditahan,juga bisa mempelajari sejarah hidup Soekarno. Sayangnya, menurut penjaga disana,Sel Soekarno di Banceuy ini jarang sekali dikunjungi orang,dalam satu hari hanya segelintir saja pengunjung. Padahal tempat ini sangat perlu untuk dikunjungi pelajar/mahasiswa bahkan masyarakat umum utk mempelajari sejarah awal kemerdekaan Indonesia.




Menariknya, di salah satu dinding tempat ini dikutip bagian salah satu Pidato Soekarno di tahun 1929,yang seperti Ramalan yang menjadi kenyataan, bunyinya sbb :

"Imperialis, perhatikanlah!
Dalam waktu yang tidak lama lagi, perang pasifik akan memenggeledek dan menyambar di angkasa. Apabila samudra Pasifik merah oleh darah dan bumi menggegar oleh ledakan bom dan dinamit.
Disitulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka!"
  (Pidato Soekarno,Solo, 1929)


                                                    *Ramalan Soekarno yang menjadi nyata*

#CeritaTourGuide #BandungAwesomeCity

Baca Juga Yang Satu Ini

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...