Wednesday, August 31, 2016

Cinta Yang Membingungkan


Mereka punya nama yang indah untuk memanggilmu.
Mereka yang lain punya panggilan agung untuk menyebutmu.
Tapi aku punya panggilan sayang sendiri untukmu.

Mereka yakin kau berada nun jauh disana.
Mereka yang lain percaya kau hadir dimana mana.
Bagiku, dirimu bersemayam di hatiku senantiasa.

Mereka punya seribu cara harus diikuti untuk memujamu.
Mereka yang lain punya sejuta aturan harus dijalani untuk merayumu.
Tapi aku memilih jalanku sendiri untuk mendekatimu.

Mereka yakin kau hanya milik golongan mereka.
Mereka yang lain percaya kau kepunyaan kelompok mereka saja
Bagiku, dirimu terlalu Maha untuk dimonopoli sesiapa siapa.

Sebenarnya, siapakah namamu?
Sesungguhnya, dimanakah rumahmu?
Semestinya, bagaimana cara untuk mencintaimu?
Sejatinya, siapa yang berhak memilikimu?

Ah betapa cinta ini sungguh membingungkan.
Dapatkah kau menjawab pertanyaanku, Tuhan ?

(Agustus 2016)

Puisi Untuk Sahabatku

Aku rindu saat itu.
Dimana saat bertemu tatapan mata kita selalu beradu.
Dimana saat bertemu perhatianmu hanya tertuju kepadaku

Aku rindu saat itu.
Saat kamu selalu menggebu gebu berbagi kabar terbarumu.
Kamu tak perlu seisi dunia tahu kabar terbaru tentangmu.
Kamu hanya perlu kehadiranku untuk mendengarkan ceritamu.

Aku rindu saat itu.
Tiap perjumpaan mendekatkan hatiku dan hatimu.Terasa Syahdu.


Kini tak kurasa lagi saat itu.
Tiap perjumpaan menjauhkan hatiku dan hatimu. Terasa membeku.

Kini tak kurasa lagi saat itu.
Kamu tak lagi menggebu berbagi kabar terbarumu kepadaku
Kamu lebih berburu mengabarkan kepada seisi dunia tentangmu
Kamu seperti tak perlu kehadiranku untuk mendengarkan ceritamu

Kini tak kurasa lagi saat itu.
Karena saat bertemu matamu enggan untuk menatapku
Karena saat bertemu perhatianmu slalu terpaku pada layar HP-mu.
Kamu membuatku cemburu pada layar HP-mu

Ah tapi aku sungguh rindu masa dahulu.
Bisakah kita ulangi kembali saat saat indah itu?

(Agustus, 2016)

Seribu Tahun Lagi

Kepada Engkau yang melampaui waktu.
Kusampaikan rasa rinduku yang menggebu.
Rasa rindu yg kerap menjadi pilu dalam kalbu.

 "Tak perlu sedu sedan seperti itu.
Aku hanya binatang jalang, hidupku sekali berarti sudah itu mati", begitu dahulu ujarmu selalu.

Tapi sungguh, aku akan lebih tak perduli
Karena aku ingin mengenangmu untuk seribu tahun lagi 

(Agustus 2016, Untuk Chairil)

Sajak Cinta Untuk Sang Pujangga

Aku ingin memahami dirimu dengan sederhana.
Seperti arti hadirnya rintik hujan di bulan Juni bagi bumi.
Dan mengubah kehampaan dahaga menjadi asa.

Aku ingin memahami dirimu dengan sederhana.
Seperti arti hadirnya kata kata yang memecah bisunya malam.
Dan menjadikan bait bait cinta begitu bermakna.

(Februari 2016, Untuk Prof. Sapardi)