Ketika Tourist Guide Indonesia Melanglang ke Negri Sakura





Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti program Japan – Asean Tourist Guide Exchange yang disponsori pemerintah Jepang dan difasilitasi oleh SEATGA (Asosiasi Tourist Guide ASEAN) dimana saya terpilih mewakili Tourist Guide dari Indonesia, bersama para Tourist Guide terpilih yang mewakili masing masing negara Asean dan juga Jepang. Bersyukur sekali bisa ikutan di program pertukaran Tourist Guide tingkat Asean-Jepang yang baru pertamakalinya diadakan ini. Koq bisa sih saya yang kepilih mewakili Tour Guide Indonesia di program ini?  padahal saya baru 6 tahun aktif di dunia Tour Guide, saya juga bukan anak yang saleh saleh banget...trus apa dong? yah itu lah yang namanya kekuatan doa Orang Tua....hehehe




                                  (para peserta Tour Guide dari negara negara ASEAN)

Ngapain aja sih di Program ini??

Tujuan utama dari program yang berlangsung selama 5 hari  ini adalah untuk saling networking  dan bertukar wawasan tentang dunia pariwisata dan juga profesi Tourist Guide di negara negara Asean dan Jepang.  Program ini sendiri berlangsung di tiga kota : Tokyo, Himeji dan Kobe. 

Di hari kedua, para peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan tentang highlight kegiatan Tour/ Wisata tematik di negara negara masing masing, sesuai topik dan spesialisasi Tourist Guide yang bersangkutan.  Peserta Singapura dan Vietnam bercerita tentang River Tours, Myanmar dan Laos bercerita tentang Religious Tours, Thailand dan Kamboja bercerita tentang Community Based Tours, Brunai dan Philipina bercerita tentang Nature Tours, Malaysia dan Indonesia kebagian bercerita tentang Food Tours. 



Kebetulan Food Tours adalah spesialiasi saya selama beberapa tahun belakangan ini, dan Food Tours sendiri masih terbilang hal baru di Jakarta. Terbukti dari masih jarangnya Travel Company/ Trip Organizer yang secara khusus menjual paket Food Tours kepada wisatawan asing, padahal jenis Food Tours seperti ini sudah sangat dikenal luas di negara negara Eropa, termasuk juga di beberapa negara Asean seperti di Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura.  Secara khusus dalam presentasi , saya juga bercerita tentang Nasi Uduk dan Kopi Luwak asal Indonesia yang saat ini merupakan kopi termahal di dunia.


Dan dalam tiga hari berikutnya, para peserta diajak untuk berwisata sekaligus untuk Skill Exchange di antara sesama peserta Tourist Guide. Di Tokyo, kami mengunjungi Gardens of Imperial Palace, Kuil Meiji (Meiji Shrine), dan Tokyo National Museum. Di Kota Himeji, kami mengunjungi Himeji Castleyang merupakan Unesco World Heritage Site, dan juga Japanese Garden. Dan di Kota Kobe yang merupakan kota pelabuhan, kami mengunjungi Carpentry Tools Museum dan kawasan Kitano yang sangat terkenal dengan rumah rumah dan bangungan tua peninggalan orang orang bangsa Eropa yang telah ada sejak awal abad 20. 


                      (cantiknya taman ala Jepang di "The East of Imperial Garden, Tokyo)

                                              (Himeji Castle, di Himeji Prefektur)


Selama kegiatan Tour di tiga kota, kami dipandu secara bergantian oleh para Tourist Guide Jepang yang mewakili Japan Guide Association (JGA).  Dari mereka ini, saya jadi tahu kalo di Jepang, profesi Tourist Guide umumnya kurang diminati oleh orang orang muda, karena profesi Tourist Guide tidak menjanjikan pendapatan yang stabil. Karena itu, rata rata Tourist Guide Jepang berusia di atas usia 50an tahun, yang  memulai profesi Tourist Guide saat sudah pensiun dari pekerja kantoran, atau saat anak anaknya sudah beranjak besar.  Namun hebatnya para Tourist Guide Jepang bisa bertahan bekerja hingga puluhan tahun, dan tetap memiliki stamina tinggi walaupun usianya sudah cukup senior. 





Contohnya Eva San  (75 tahun) pemandu kami selama di Tokyo, yang sudah bekerja sebagai Tourist Guide selama 40 tahun dan bersuamikan seorang Tourist Guide juga.  Di usianya yang menjelang 75 tahun, Eva san masih enerjik memandu para peserta Tour, dengan gayanya yang memikat. Saya paling suka cara Eva San memperkenalkan diri kepada para peserta Tour: “My English is Japanese English. So please Enjoy..!”  

Tampak sekali Tourist Guide Jepang penuh kepercayaan diri walaupun mungkin bagi banyak orang asing, aksen bahasa inggris mereka terkadang sulit dimengerti. 


        (Eva San, 75 tahun, saat memandu di bis sambil terus berdiri, kuat sekali staminanya)

          
Lalu ada lagi, Taeko San yang berusia 65 tahun yang memandu kami selama di kota Himeji . Saat mengunjungi Himeji Castle yang memiliki ketinggian hingga 50 m (sekitar 10 lantai), Taeko San terus ikut memandu kami semua hingga di lantai tertinggi. Saya aja yang masih muda, udah cukup ngos ngosan ...keren banget deh semangat tinggi Taeko San ini.

           (Di Himeji Castle, Taeko San ikut naik memandu kami semua hingga ke lantai 10)

Sepanjang City Tour, kami juga banyak diceritakan tentang budaya dan kebiasaan orang orang Jepang.  Saat mengunjungi Meiji Shrine, sebuah kuil agama Shinto di wilayah Shibuya, saya cukup terkesan dengan cerita tentang (Agama/ Kepercayaan) Sinto yang banyak dianut oleh orang Jepang. Banyak ajaran Sinto yang menurut saya mirip dengan ajaran Islam, seperti menyucikan diri sebelum berdoa/ beribadah dan mengutamakan kebersihan (kalo di Islam, dikenal dengan istilah “Kebersihan adalah bagian dari Iman). Cuma kalau di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengutamakan kebersihan ini sendiri sepertinya sekadar jargon. 

Tapi untuk penduduk Jepang, menjaga kebersihan ini seperti sudah mendarah daging menjadi karakter sehari hari. Kemanapun saya pergi saat di Jepang, tak pernah terlihat ada sampah sampah terbuang sembarangan. Semua jalanan terlihat sangat bersih, semua orang punya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Bagi orang Jepang, mereka akan malu , kalau terlihat membuat sampah sembarangan.

      (Eva San, saat mengajarkan kami untuk "berwudhu" sebelum masuk ke Meiji Shrine)


                                 (Bagian luar dari Meiji Shrine, kuil Agama Shinto Meiji)
Ketika berkunjung ke Himeji Castle di Himeji Prefektur, saya menyadari di sekitar tempat wisata itu tidak ada satupun tempat sampah di pinggir jalan, padahal itu adalah area wisata yang banyak didatangi ribuan turis tiap harinya.  Setelah saya bertanya kepada Taeko San, ternyata itu disebabkan sekitar sepuluh tahun lalu di salah satu tempat di Jepang ada percobaan peledakan bom yang disimpan di dalam sebuah tong sampah di pinggir jalanan. Setelah peristiwa itu, pemerintah Jepang memutuskan tidak boleh lagi meletakkan tong sampah di pinggir jalan.
              (Himeji Castle, Unesco World Heritage, yang dibangun sejak abad 17)


Karena itu warga Jepang sudah terbiasa menyimpan sampahnya sendiri di tas/ kantong, sampai menemukan tong sampah di dalam gedung, bahkan jika melihat ada sampah tercecer di pinggir jalan, orang Jepang juga mau maunya memungut dan membawa sampah itu sampah ketemu tong sampah. Keren banget yaaa...coba kalo di Indonesia bisa gini, bisa bisa gak ada kerjaan lagi itu para  petugas kebersihan di pinggir jalan.

Selain diperkenalkan  Sejarah dan Budaya tentang Jepang, tentu saja sepanjang program ini semua peserta dimanjakan dengan mencoba makanan Jepang yang lezat dan sedap.....surga dunia deh pokoknya.....




Diluar rangkaian acara yang telah disiapkan panitia, saat di Tokyo saya  juga mencoba berwisata kuliner sendiri, mencoba berbagai makanan Jepang yang lagi happening di Harajuku dan Ginza. Hasil eksplorasi Food Tour saya selama di Tokyo bisa dilihat cerita dan foto fotonya  di link berikut https://www.facebook.com/iralennon/media_set?set=a.10209239291392495.1073741932.1027763779&type=3

Thanks SEATGA, Viva Japan and ASEAN, dan Hidup Indonesia Raya :-)  



Tiga Alasan ini bisa bikin kamu pingin berwisata kuliner di Best Western Kemayoran







Kamu suka jelajah kuliner di berbagai tempat di Jakarta? Bagaimana kalo kulineran di Hotel berbintang? Wah icip icip makanan di Hotel berbintang kan pasti mahal banget.....mungkin banyak orang berfikiran begitu.   

Tapi jangan salah, banyak juga loh Hotel berbintang yang menawarkan makanan dengan harga terjangkau atau diskon di waktu waktu tertentu. Apalagi ada hotel hotel berbintang yang juga menawarkan fasilitas istimewa seperti restauran yang terletak di ketinggian atau istilahnya Roof Top atau Sky Dining, sehingga sambil makan makan kita juga bisa sambil menikmati indahnya pemandangan kota di ketinggian. 

Belum lama ini, saya datang datang ke acara Blogger Gathering di Hotel Best Western Plus Kemayoran yang diadakan oleh Komunitas BloggerCrony. Hotel Best Western di Kemayoran ini adalah salah satu dari tiga Hotel Best Western yang terdapat di Jakarta, dan berpusat di California, USA. 

(Hotel Best Western di Komplek Grand Palace Kemayoran)

Hotel Best Western Pus Kemayoran yang berbintang Empat ini punya beberapa spot kuliner, yaitu di Restoran Sky Lounge yang terletak di Lantai 21 , Restoran Onyx dan BW Cake Shop yang terletak di Lt. Dasar. Kalau berbicara tentang makanan di hotel berbintang, umumnya memang nggak diragukan lagi kelezatannya, karena biasanya diracik oleh para Chef handal.

Lalu, apa yang bikin Hotel Best Western Kemayoran ini perlu dicoba untuk kamu para penjelajah kuliner? Berikut ini beberapa alasannya  

1 . Makan Makan Sambil Menikmati Kota Jakarta di Ketinggian

                       (pemandangan ketinggian Jakarta dari Sky Lounge Resto di Lt. 21)
                                               foto : @coretanmasdede

Buat para pecinta makan, alasan mencari tempat makan gak melulu hanya karena makanannya, tapi terkadang juga cari suasananya yang ga biasa. Gak semua Hotel berbintang di Jakarta punya restoran yang terletak di ketinggian (Sky Dining). Restoran Sky Lounge Hotel Best Western yang terletak di Lantai 21 Hotel ini menawarkan pemandangan yang spektakuler untuk menikmati pemandangan Jakarta dari ketinggian. Ingin mencari tempat dinner dengan pasangan atau someone special ? Coba aja deh ajak kesini, menikmati makanan di ketinggian bakal manis manis romantis. Untuk pilihan menu, di Resto ini juga ada tersedia menu western dan tradisional. Kalau kamu penyuka mushroom, kudu coba  Mushroom Chicken Steak nya...endess !

 
 (Menu terbaru Sky Lounge Resto, Nasi Timbel Karuhun Rp 80.000 dan Mushroom Chicken Steak 
Rp 120.000, foto : Rahab Ganendra )


2. Aneka kue diskon 50 % setelah jam 6 malam. 

                  (Red Velvet Cheese Cake di BW Cake Shop lt. dasar, foto : @coretanMasDede)

Buat kamu penikmat cake dan pastry, BW Cake shop di lantai dasar menawarkan diskon setengah harga setelah jam 6 sore, dan ini berlaku untuk semua jenis cake dan aneka roti. Cake yang dijual disini gak cuma potongan kecil (slice) tapi juga satu loyang. Jadi kalau lagi cari kue ulang tahun atau untuk pesta, dengan kualitas hote, coba aja langsung cus kesini setelah jam 6 sore. Salah satu cake favorit disini adalah Red Velvet Cheese Cake, Avocado Cake, dan Opera Cake. Harga normal rata rata cake dari Rp 16.000- Rp 23.000, dan harga aneka roti nya malah cuma 10ribuan,  nah bayangin murmernya kan setelah di diskon setengah harga !!.

                                         Rainbow Cake, Rp 23.000 (belum diskon)

                           (Opera Cake, yg jadi best seller, Rp 23.000 belum diskon)


                                            Avocado Cake Rp 16.000 (belum di diskon)


                           Roti roti lezat ini cuma Rp 12.000, bayangin murahnya setelah diskon 50%

3.  Penawaran menarik di waktu tertentu
Secara berkala, restoran Hotel Best Western mengeluarkan jenis menu khusus , dengan harga menarik. Menu menu yang ditawarkan ini gak selalu jadi menu tetap, karena itu hanya dikeluarkan untuk waktu waktu tertentu saja. Informasi tentang menu spesial ini juga bisa diketahui di website resminya www.bwpluskemayoran.com
Contohnya, saat ini Restoran Onyx di lantai dasar, sedang menawarkan menu Pizza Mixed berukuran besar dimana kita bisa mengkreasikan sendiri aneka topping dan sprinkles yang kita mau...Pizza kreasi sendiri gini seru nih buat disantap bareng keluarga atau kolega. Dan untuk para pengguna smartphone tinggal scan barcode Hotel Best Western saat mau membayar, dan bisa dapatin diskon 10% untuk semua menu di Resto Onyx  di lt . dasar dan  Resto Sky Lounge di lt. 21.

                                                     (Pizza Mixed, Rp 135.000)


Gimana, mau langsung cuzz ke Hotel Best Western Kemayoran??
Nih alamat lengkapnya : 
Best Western Plus Kemayoran
Jl. Benyamin Suaeb blok A5, Jakarta Pusat
Kemayoran
Tlp : 021 65853888
Website : www.bwpluskemayoran.com




Profesi Tour Guide : Dari Obsesi Keliling Dunia Hingga Cita Cita Mempromosikan Indonesia ke mata Dunia


Ini kisahku tentang bagaimana dahulu yang begitu terobsesi  untuk Traveling keliling dunia, lalu bertransformasi menginginkan agar orang orang dari penjuru dunia lah yang datang ke Indonesia.

Dari kecil aku selalu ingin keliling dunia karena dipengaruhi oleh kebiasaan membaca banyak komik dan menonton film di bioskop bersama bapakku.  Komik Tintin, si wartawan yang sering berpetualang ke banyak negara, adalah bacaan favoritku. Dan aku selalu menikmati saat berada di dalam bioskop, menonton gambar hidup yang menampilkan pemandangan indah dari berbagai tempat seperti memasuki petualangan seru tersendiri untukku.  Lahir dan dibesarkan di Jakarta, bisa dibilang keluargaku juga jarang membawaku keluar dari Jakarta. Saat lebaran tiba, aku juga tak pernah merasakan mudik karena keluarga besarku memang berasal dari Jakarta.

Karena itu, waktu memasuki SMA, aku bergabung di ekskul Mading / Wartawan Sekolah, dimana aku bisa dapat kesempatan jalan jalan untuk bertemu banyak orang baru termasuk kalangan artis untuk di wawancara. Begitupun saat memasuki bangku kuliah, aku memilih jurusan Hubungan Internasional karena yang aku tahu jurusan tersebut lekat dengan jalan jalan dan traveling ke luar negeri. Alhamdulilah aku diterima di Jurusan HI Universitas Padjajaran di Bandung. Begitu girangnya, karena ini berarti kesempatanku untuk tinggal di luar Jakarta. Memasuki bangku kuliah itu pulalah, aku mengetahui sebagian besar teman teman sekelasku memasuki Jurusan Hubungan Internasional karena nantinya ingin menjadi Diplomat dan bekerja di Departemen Luar Negri. Namun aku sama sekali tidak merasakan keinginan yang sama, karena cita citaku masuk ke Jurusan HI memang hanya karena satu hati : Jalan Jalan ke Luar Negri.

Lucunya,  ternyata aku bisa mewujudukan impian “ke luar negri” itu tidak harus menunggu sampai  lulus kuliah. Saat di semester ke 3 di tahun 2001, aku mengikuti seleksi Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang, dan terpilih menjadi salah satu dari 28 orang yang menjadi Delegasi Muda Indonesia, dan akan bergabung bersama ratusan pemuda pemudi terpilih dari Jepang dan negara negara Asean. Jadi di  tahun itulah, untuk pertama kalinya saya mewujudkan impian “melihat dunia”, pertama kalinya naik pesawat terbang, dan untuk pertama kalinya bepergian ke luar negri. Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang (Ship for South East Asian Youth Program) itu menggunakan kapal pesiar mewah(Nippon Maru) yang mengunjungi Jepang dan negara negara peserta Asean selama kurun waktu dua bulan. Bayangkan, bukan saja aku bisa mengunjungi satu negara tapi langsung mengunjungi 10 negara sekaligus ! Sungguh pengalaman luar biasa bagiku di usia yang begitu belia saat itu berpetualang ke 10 negara menggunakan kapal pesiar. Selama berlayar di dalam kapal berminggu minggu, saya benar benar menikmati berinteraksi dengan ratusan teman baru dan melakukan banyak aktifitas seru, dan seakan tidak peduli dengan perkembangan dunia di luar kapal. Saat itu belum ada teknologi smartphone, apalagi  teknologi “internet super cepat” seperti saat ini. Dan dari  program itu pulalah aku memiliki begitu banyak  sahabat dari berbagai negara dan juga keluarga angkat dari berbagai negara Jepang dan Asean, yang hingga kini masih terus menjalin silahturahmi .

Saat lulus dari bangku kuliah dan memasuki dunia kerja, aku pun memilih bekerja jadi Wartawan di TV. Lagi lagi karena satu alasan : Bisa Traveling ke banyak tempat. Selama 3 tahun bekerja jadi wartawan TV, aku memang banyak mendapat kesempatan Traveling ke berbagai tempat nusantara. Pada satu titik, aku merasa jenuh bekerja sebagai Wartawan TV yang selalu dikejar deadline harian dan rating. Hinngga akhirnya aku memutuskan untuk resign untuk mencoba dunia baru, dan mencoba beragam profesi yang dijalankan secara freelance, dari menjadi Penulis hingga akhirnya juga mengenal profesi Tour Guide atau Pemandu Wisata, yang ternyata begitu aku nikmati.  Sebagai Tour Guide, saya lebih sering bekerja mandiri, dan mendapatkan client/ Turis dari internet. Bersyukur dengan era internet seperti saat ini, saya bisa dengan mudah mendapatkan client/ turis turis dari berbagai dunia.  Bahkan saat saya berada di rumah pun, dengan menggunakan internet ultra cepat dari www.myrepublic.co.id (DW TV) saya selalu bisa cepat terhubung untuk berkomunikas dengan para calon wisatawan yang merencanakan berwisata ke Jakarta dan kota kota lain di Indonesia.  

        (memandu Tur ke Mesjid Istiqlal, salah satu destinasi favorit wisataan asing saat di Jakarta)

Sebagai Pemandu Wisata, pada awalnya saya memandu beragam tur untuk para wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.  Ada kebanggaan tersendiri saat bisa memandu dan bercerita segala hal tentang Jakarta dan juga tentang Indonesia pada para wisatawan mancanegara. Apalagi saat mengetahui bahwa budaya dan keindahan Indonesia begitu mengagumkan di mata para turis. Semakin menjalani profesi sebagai Tour Guide, kecintaan terhadap Indonesia semakin bertumbuh kuat. Hingga kini sudah 7 tahun saya menjalani profesi Tour Guide dan saya berharap akan terus menjalani profesi ini hingga tua.


Sebagai Tour Guide di Jakarta, saya juga berusaha membangun citra pariwisata Jakarta. Bahwa Jakarta itu bukan hanya melulu tentang macet, macet , dan macet. Banyak hal seru dan menarik yang bisa di eksplor dari berbagai sudut Jakarta. Karena itu beberapa tahun belakangan ini, saya juga banyak menggagas berbagai Tur dengan konsep kreatif di Jakarta, dari mulai Heritage Walking Tour atau Food Tour, yang ternyata juga banyak diminati oleh sesama warga Jakarta sendiri, untuk lebih mengenal kota mereka. Bagi mereka, pengalaman ikut di berbagai Tur yang saya adakan, membuka mata bahwa ternyata berwisata mengeksplor berbagai tempat di Jakarta pun bisa menjadi aktifitas yang seru dan mengasyikkan . Bagi saya, ini suatu hal yang menggembirakan, karena memang ternyata banyak warga Jakarta yang tidak tahu banyak seluk beluk tentang kota mereka sendiri.  
Kecintaan dan komitmen saya terhadap profesi Tour Guide yang dijalani, akhirnya membawa saya terpilih menjadi satu satunya Tour Guide yang akan mewakili Indonesia di ajang Japan- Asean Tour Guide Exchange Program yang akan berlangsung di Jepang , akhir bulan November ini. Ini pun adalah suatu penghargaan yang luar biasa istimewa bagi saya, mengingat sebenarya saya masih tergolong Tour Guide pemula, dibanding rekan rekan seprofesi yang lebih senior dan sudah puluhan tahun di menjadi Tour Guide.  


Namun dari semua itu, saya menyadari kini bahwa Traveling  itu bukan sekedar berjalan jalan sejauh mungkin melangkah. Traveling itu sendiri adalah proses perjalanan lebih ke dalam jiwa, untuk menemukan panggilan jiwa dan panggilan hidup sebenarnya. Dan saya menyadari panggilan jiwa saat ini adalah membantu mempromosikan Jakarta dan Indonesia ke mata dunia. . 

Serunya Jelajah Kampung Nelayan Cilincing, Melihat Sisi Lain Jakarta yang tak hanya gemerlap


“Nenek moyangku orang pelaut .. gemar mengarungi luas samudra … menerjang ombak tiada takut … menempuh badai sudah biasa”

Sebagai warga Jakarta yang bekerja sebagai Tour Guide dengan spesialisasi untuk Food Tour, saya sering membuat rute rute wisata kreatif untuk mengeksplorasi berbagai tempat di Jakarta. Namun saya mengamati Wisata Pesisir di Jakarta, belum banyak di ekplorasi padahal perkembangan kota Jakarta mempunyai sejarah yang cukup erat dengan laut.

Karena itulah, beberapa waktu lalu saya bersama Jakarta Food Adventure menggagas sebuah Food Tour ke kawasan Cilincing, Jakarta Utara, untuk  menjelajahi kehidupan di Kampung Nelayan sekaligus mengeksplorasi kelezatan kreasi makanan olahan. Saya ingin mengajak peserta tur untuk melihat lebih dekat gimana kehidupan orang-orang di pesisir Jakarta yang hidup dari laut, karena Jakarta bukan cuma tentang gemerlap kota saja.



Tur ini sendiri diikuti oleh 25 orang peserta tur, juga beberapa rekan rekan media dari Televisi dan surat kabar nasional. Sebagian besar peserta Tur adalah warga Jakarta, yang walaupun sudah berpuluh tahun tinggal di Jakarta, tapi belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Kampung Nelayan Cilincing.

Daftar tempat tempat yang dikunjungi dalam tur ini adalah Tempat Penjemuran Ikan Asin, Tempat Pembersihan Kerang Hijau, Kelas Belajar Oky, Pasar Ikan, Krematorium Cilincing, Kampung Nelayan , dan beberapa tempat ibadah bersejarah di pesisir laut Cilincing (Mesjid Al Alam, Vihara Lalitavistara, Pura Segara), serta di akhiri dengan menikmati aneka makanan laut di sebuah Restoran Seafood. 



Saya membuka Tur dengan menyanyikan sepenggal lirik lagu “Nenek Moyangku orang Pelaut”, sambil menceritakan kepada peserta Tur bagaimana nenek moyang orang Indonesia pernah berjaya di laut sejak belasan abad lalu. Food Tour ke Kampung Nelayan Cilincing ini saya adakan juga sebagai upaya mempromosikan wisata pesisir yang lekat dengan kehidupan laut.   

Penjelajahan awal  Tur kami dimulai di SMK 36 yang merupakan satu satunya  SMK dengan spesialisasi Ilmu tentang Kelautan di Jakarta.  Di tempat ini kami berkesempatan bertemu dengan beberapa siswa/i dari Jurusan Budidaya Hasil Laut, yang menunjukkan produk produk olahan hasil ikan buatan mereka, seperti Otak Otak Ikan, Baso Ikan, Minuman Rumput Laut dll, yang ramai diborong oleh para peserta Tur.

                (peserta Tur memborong produk olahan laut buatan siswa siswi SMK 36)

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Pusat Pengeringan Ikan Asin, yang merupakan pusat  pengeringan Ikan asin terbesar kedua di Jakarta selain di Muara Angke. Ikan Asin merupakan salah satu sumber kalsium di samping susu dan sayuran, dan banyak digemari oleh keluarga Indonesia untuk dijadikan berbagai olahan masakan. Proses Pengolahan Ikan Asin di Cilincing masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dijemur berhari hari dengan mengandalkan sinar matahari. Teknik pengasinan tradisional ini dipercaya menghasilkan kualitas ikan asin yang lebih baik daripada yang menggunakan teknologi modern (oven). Saat mengunjungi Tempat Pengolahan Ikan Asin ini, para peserta Tur ramai ramai memborong beli Ikan Asin hingga berkilo kilo.


Lalu kami beranjak ke tempat kunjungan kedua, yaitu Tempat Pengupasan Kerang Hijau. Kerang hijau (Perna Viridisi) merupakan hasil laut yang menjadi andalan sebagian besar nelayan di Cilincing. Kerang hijau diperoleh para nelayan dengan cara penangkapan alami atau hasil budi daya. Teluk di sekitar Cilincing banyak dijadikan lokasi pembudidayaan kerang hijau yang dilakukan dengan teknologi sederhana. Kerang Hijau atau dikenal juga sebagai Kijing memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi. Kandungan gizi pada kerang hijau sebanding dengan daging sapi, telur maupun daging ayam. Kerang Hijau yang banyak dijajakan oleh pedagang keliling di wilayah Jakarta, banyak yang berasal dari Cilincing. Di tempat ini, saya mengajak para peserta Tur untuk mencicipi olahan Kijing yang telah diberikan bumbu kunyit yang lezat.

(tempat pengupasan kerang hijau)

(kerang hijau bumbu kunyit lezat yang dicoba para peserta Tur)

Lalu tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Kelas Belajar Oky, yang merupakan komunitas belajar untuk anak anak nelayan yang digagas oleh Oky Setiarso . Di tempat inilah anak anak nelayan Cilincing setiap minggu bisa mengikuti kegiatan belajar membaca , belajar bahasa inggris, hingga belajar menggambar. Menurut Oky yang juga mempunyai gelar Master di bidang Human Nutrition,  anak anak di Kampung Nelayan Cilincing memiliki daya tangkap yang cepat dan mudah menangkap pelajaran, karena mereka sering mengkonsumsi kijing. Wah ini suatu informasi yang menarik bagi saya dan juga para peserta Tur. Sejak sering mengikuti aktifitas di Kelas Belajar Oky, anak anak nelayan Cilincing juga banyak yang memiliki banyak pilihan cita cita. Kalau sebelumnya, kebanyakan anak anak itu hanya ingin bercita cita menjadi pengupas kerang , sekarang mereka banyak yang bercita cita menjadi Pilot, Dokter, hingga Pengusaha. Wah kerennn !!





Penjelajahan kami berikutnya adalah melihat Kampung Nelayan, dimana kami melihat aktifitas para warga yang sedang membuat kapal kayu. Selain melaut sebagai nelayan, warga Cilincing juga banyak yang berprofesi membuat perahu kayu berdasarkan pesanan. Walaupun kini juga semakin banyak warga Cilincing yang memilih kerja menjadi buruh pabrik di Kawasan Berikat Nusantara, Cilincing.  

 (Berbincang dengan Putut, pemuda Cilincing yang masih bertahan bekerja dari laut. Kawan          sebaya Putut banyak yang memilih bekerja sebagai buruh pabrik.)

Setelah menjelajah kampung nelayan, saya mengajak peserta Tur untuk mengunjungi beberapa rumah ibadah bersejarah yang berada dalam radius 1km, yaitu Masjid Al-Alam Cilincing, Vihara / Klenteng Lalitavistara dan Puri Segara, yang merupakan satu satunya Puri di Jakarta yang terletak di pinggir laut. Ini adalah bukti adanya kerukunan dan toleransi beragama yang sangat kuat di kalangan warga pesisir
(Wihara Lalitavistara, sudah ada sejak abad 16. Di komplek Wihara ini juga terdapat Sekolah Tinggi Agama Budha, yang memiliki jenjang Master, dan merupakan satu satunya di Indonesia)

(Pura Segara, satu satunya Pura di Jakarta yang terletak di pinggir Laut, dibangun sejak tahun 1992)

(Wasiat Sunan Gunung Jati di dalam Masjid Al Alam Cilicing, yang telah berdiri sejak abad 16)

Gak lupa di “Jelajah Kampung Nelayan Cilincing” ini diisi dengan jelalah kuliner santapan laut  dengan makan siang bersama dengan mencicipi dan mencoba aneka hidangan laut / Seafood yang lezat di Babeh Seafood, Resto Seafood paling beken di kawasan Cilincing. Berkeliling Kampun Nelayan Cilincing dan menyicipi beragam kuliner khas pesisir Jakarta tentu menjadi aktivitas wisata alternatif yang menarik untuk melihat sisi lain dari sebuah kota yang modern.

     (aneka makanan laut yang dicicipi para peserta tur......bergizi tinggi dan lezaaat semuanya ! )

Setelah puas mencicipi seafood,  Tur ini dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Si Pitung ,di kawasan Marunda.  Pitung, yang dikenal sebagai jagoan Beawi ini,  aslinya adalah orang Banten yang merantau ke Kemayoran untuk belajar Silat. Rumah Pitung yang kami kunjungi ini dahulunya adalah milik saudagar asal Bugis, yang kerap  menjadi tempat persembunyian Pitung saat dikejar kejar Belanda. Sejak Jokowi menjadi Gubernur, Rumah Pitung ini diresmikan sebagai Museum, dan berada dalam satu manajemen dengan   Museum Bahari. 


Jalan jalan ke pesisir Utara Jakarta ini adalah pilihan yang menarik untuk mengesplor sisi lain dari Jakarta. Bahwa Jakarta bukan hanya gemerlap kota saja.

Mau tau lebih banyak gimana serunya Tur jelajah kawasan pesisir Jakarta termasuk mencicipi aneka kuliner olahan laut di pesisir Jakarta? saksikan video liputan saat Tur oleh BeritaSatuTV di sini.



#CeritaTourGuide #CeritaJakarta

Baca Juga Yang Satu Ini

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...