Sunday, October 01, 2006

Belajar Kehidupan dari INFOTAINMENT : Sebuah Refleksi


BELAJAR KEHIDUPAN DARI INFOTAINMENT:
SEBUAH REFLEKSI

Life is not a restaurant but a buffet, stand up and help yourself (Dominique Glocheux – sastrawan Prancis)

Hampir tiga tahun aku menjalani profesi sebagai wartawan, yang memang sejak dulu selalu menjadi cita-citaku. Namun, menjadi wartawan infotainment adalah tugas yang aku rasa paling berat. Atas nama uang (yang waktu itu sangat kuperlukan untuk biaya kuliah ), setahun lalu aku bersedia bergabung di sebuah stasiun TV dan bersedia ditempatkan di bagian infotainment – hal yang sangat asing bagiku saat itu .

Ternyata, menjadi seorang wartawan infotainment tak semudah yang aku kira . Bukan saja tugas-tugasnya yang memang berat (seperti mengejar-ngejar artis, sampai nongkrongin rumahnya semalam suntuk), namun lebih dari itu, sebagai wartawan infotainment aku seringkali harus menghadapi pandangan sebelah mata dari berbagai penjuru.

Aku sendiri sering mengalami bagaimana dianggap sekedar ‘pemburu gosip’, tak hanya oleh sebagian narasumber (yang seringkali namanya malah makin ngetop karena diberitakan infotainment), masyarakat, teman-teman, hingga rekan seprofesi wartawan (yang bukan wartawan infotainment). Walaupun infotainment sudah diakui keberadaannya oleh PWI, nyatanya aku seringkali dihadapkan kenyataan tak dianggap sebagai seorang "Jurnalis". Seolah-olah wartawan infotaiment adalah warga kelas ke sekian dalam profesi jurnalistik. Belum lagi aku juga harus siap untuk tebel muka saat berada di ruang kuliahku, dimana dosen dan teman-teman sekelas seakan 'meremehkan' pekerjaanku. Sangat menyesakkan dada bila sudah berusaha sekuat tenaga untuk berkarya, tapi selalu mendapat respon negatif dari orang lain. Terus terang, keadaan seperti ini sempat membuatku nyaris patah arang.

Yang membuatku tetap ‘berjuang’ adalah dukungan dari keluarga serta kepercayaan yang diberikan oleh Produserku (she really is a great leader!). Dari bosku tersebut, aku belajar untuk fokus dan konsisten terhadap suatu pilihan hidup, tanpa perlu memusingkan penilaian orang lain. Perlahan, aku mulai terbiasa dengan ‘status’ku, dan berusaha untuk ber 'damai'. Damai dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarku. Bahkan saat terjun di infotainment, aku malah merasa mendapat banyak "ilmu", baik dari seluk beluk berita yang aku tangani, ataupun dari sesama rekan wartawan infotainment (yang banyak dari mereka ternyata adalah orang-orang hebat, baik dari segi kecerdasan intelektual ataupun kecerdasan spiritual). Namun untuk meminimalisir imej ‘tukang gosip’, aku berusaha menghindari ngegosipin sesama rekan kerja, baik di kantor ataupun di lapangan. Lagipula diluar itu, jadi wartawan infotainment pun banyak enaknya. Nonton konser dan pertunjukan gratis, diundang launching film/ album/ buku terbaru, datang ke acara-acara bergengsi, sampai diajak jalan-jalan oleh si artis, siapa sih yang nolak??Hehehe

Saat ini, aku tak tak lagi bertugas di infotainment dan kuliahku pun sudah selesai (Thanx buat infotainment yang sudah "membayarkan" uang kuliahku). Namun dari pengalaman menjadi wartawan infotainment, aku belajar untuk membuka mata - hati dan fikiranku dengan seluas-luasnya. Aku telah memilih jalan hidupku sebagai seorang wartawan dengan kesadaran penuh. Ketika ditempatkan di infotainment itulah aku merasa di uji kesungguhan, komitmen, serta kecintaanku terhadap profesi yang aku pilih .

Satu tahun di infotainment bagaikan "sekolah kehidupan" yang menjadi titik balik bagiku dalam memandang hidup yang tak hanya dari satu sisi, dan mudah-mudahan dapat menjadi pendewasaan diri. Secara mental dan spiritual, aku merasa lebih berkembang dibanding satu tahun ke belakang. Aku pun kini berusaha untuk menilai orang lain secara lebih manusiawi, tak peduli apakah jenis pekerjaan, pendidikan, jabatan, atau berbagai status yang menjadi embel-embelnya. Setidaknya kini aku memahami makna kata-kata seorang bijak: Bahkan dalam situasi terburuk seperti apapun, kita harus selalu berpikir positif untuk mencari sisi baiknya.

Sept 06