SUSAHNYA JADI RATU SEJAGAT


SUSAHNYA JADI RATU SEJAGAT..!!

Gimana reaksi Anda saat berada di negri tetangga dan ada seseorang yg bertanya : “Apa di Indonesia ada Es Krim??? “”
(Mo marah gak seeh!! Busyeeet ….emangnya Indonesia negara yg orang2nya idup di zaman batu……..!!! )

Mungkin seperti dugaan banyak orang…akhirnya Nadine Chandrawinata gagal jadi Ratu Sejagat, bahkan nggak bisa masuk 20 besar! (Ratu Sejagat bukannya Vonny Sumlang….atau Mulan Kwok??). Berita-berita di media dan komentar yang banyak beredar memang meragukan kualitas dan kelayakan Nadine menjadi ‘wakil’ Indonesia dengan penilaian: bahasa inggris yg blepotan, tingkat kecerdasan yg minim, muka yg terlalu bule, dan segala kritik lainnya.
Faktor-faktor itulah yang sering dianggap menjadi penyebab kekalahan Nadine dan bahkan hingga kini sering dijadikan bahan ‘olok-olok atau ’lelucon'.
Well, tiap orang bebas kasi pendapat. Tapi, saya pribadi sih tidak sependapat dengan opini-opini itu. Gimanapun, Nadine udh berbuat sesuatu buat Indonesia.

Kalo ajang Miss Universe (dan Miss-Miss an....mimisan??! lainnya) dianggap ‘menjual’ fisik wanita, yah maklum aja namanya juga ajang ratu-ratuan. Udah dari sononya koq, manusia suka segala sesuatu yang indah-indah. Kalau mau adu kepinteran, yah bukan disitu tempatnya. Sementara ada juga lomba yang ‘menjual’ fisik pria dan diikuti wakil dari Indonesia (apa yah namanya?...Ajang L-Men kalo ga salah), tapi koq di Indonesia ga diributin. Lagipula kalau di dunia ini cuma ada lomba pinter-pinteran atau lomba kuat-kuatan (senjata), gak seru kali ye.....

Terlepas dari pro dan kontra ttg keikutsertaan Indonesia di ajang Miss Universe yang selalu bikin heboh tiap tahun itu , kontroversi mengenai Nadine mengingatkan saya kembali dengan anggapan Tommy Pratama, bos Original Production tentang lemahnya Public Relations Indonesia di luar negri.
Pada suatu wawancara, Promotor Musik yg udh ngedatengin band-band legendaris seperti Air Suply, Scorpion, dan lain lain itu mengeluhkan betapa sulitnya saat ini mengundang musisi mancanegara untuk manggung di Indonesia. Kebanyakan mereka takut dan nggak percaya dengan keamanan disini. Akhirnya band sekelas Coldplay pun ga mau ‘melirik’ Jakarta meski mereka menggelar konser di Singapura (yang ironisnya sebagian besar penonton berasal dari Indonesia).

Namun pada saat grup Toto (akhirnya mau) datang lagi ke Indonesia belum lama ini, ia merasa sangat terharu dengan komentar para personil Toto. Kira-kira begini komentar mereka : “ Gila yah, berita tentang Negara kamu di luar tuh jelek sekali, pas kita dateng kesini ternyata beda banget. Kamu adalah Public Relations yg baik buat Negaramu. Harusnya Indonesia berterima kasih buat orang-orang kayak kamu. Walaupun ada isu terorisme, travel warning, dan segala macem, tapi kamu berhasil ngeyakinin kita buat datang kesini”

(JANGAN) SELALU SALAHKAN NADINE
Kembali ke Nadine, di ajang Miss Universe itu mungkin saja dia udah berperan sebagai Public Relations (PR) yang baik untuk Indonesia, walaupun bukan wakil resmi negara (iya lah…la wong pemerintah kita kan gak pernah ngakuin udah mengirim dia). Tapi dengan kapasitas dan segala keterbatasannya, banyak sisi positif dan ‘kecerdasan’ Nadine yang luput dari pemberitaan ramai. Contohnya pada wawancara di program berita salah satu TV Nasional, Miss Lebanon, Gabrielle Bou Rached, mengakui, Nadine adalah peserta pertama yang mendatangi , menghibur, dan menyemangatinya saat Lebanon mulai diserang Israel. Miss Lebanon yg kerap terlihat sedih saat karantina berlangsung, cukup kaget kenapa Nadine bisa tau peristiwa itu. Tau apa jawaban Nadine saat itu? Di Indonesia juga baru terjadi gempa besar. Karena negara kita saat ini sama-sama sedang tertimpa musibah, jadi saya merasakan kesedihan yang kamu rasakan.
Koq bisa ya, saat itu Nadine tetap tegar jadi ‘wakil’ Indonesia yang lagi kena banyak musibah, terlebih lagi dirinya dilecehkan bertubi-tubi di negri sendiri. Hanya orang-orang yg bermental baja yg mampu bertahan di situasi begitu! Untung aja Nadine nggak sesumbar komentar kayak gini: Musibah terbesar di Indonesia adalah banyak koruptor merajalela! Dari mulai pejabat, aparat, sampai orang-orang yang nilep duit sumbangan bencana….!
Walaupun setengah bule, di ajang itu Nadine juga dengan bangga mengakui bahwa tanah air dan jiwanya 100% indonesia (bayangin….udah dicaci maki bertubi-tubi di ‘tanah air’ nya…….masih juga bangga!) . Bahasa inggris Nadine yg dinilai pas-pasan (hanya karena insiden…Indonesia is a beautiful city ) juga kurang tepat kalo dijadiin faktor kegagalannya. Yang namanya salah ngomong , kan bisa dialamin siapa aja, dan mungkin ada alasan dibalik kekhilafan itu.

Sebelum ajang puncak Miss Universe, Antara News pernah memberitakan bahwa Nadine banyak disukai dan diunggulkan oleh sesama peserta. Sedangkan setelah pemilihan Miss Universe berakhir, suatu suratkabar nasional juga pernah memberitakan, walau mengaku cukup sedih tidak bisa masuk 20besar, Nadine merasa senang karena mendapat teman dari berbagai negara di ajang itu. Keinginannya selama ini untuk mendapat teman dari benua Afrika juga akhirnya terpenuhi karena ada beberapa peserta dari Afrika yang menjadi teman dekatnya dan itu dan menurutnya itu adalah kesempatan yang sangat langka.

See….. Dari berita seperti itu sebenarnya kita bisa menilai bahwa bahasa inggris Nadine ga jelek-jelek amat (hal yang semestinya dimaklumi, mengingat ia berdarah 50% Indonesia). Buktinya ia bisa bersosialisasi dan bergaul dengan peserta lain, dan rasanya mustahil mereka ngobrol menggunakan bahasa tubuh.. Sementara diberitakan kemenangan Zuleyka Rivera Mendoza yang berasal dari Puerto Rico sebagai Miss Universe 2006 juga cukup mengagetkan banyak peserta lain mengingat bahasa ingris Zuleyka yang sangat minim. Kalau Zuleyka saja bisa menang....apakah bahasa inggris menjadi faktor penentu di ajang itu??? Rasanya tidak.

Saya jg kurang sependapat dengan anggapan yang menilai (seolah-olah) ada korelasi antara kondisi fisik dengan tingkat intelegensia seperti : “Cantik-cantik koq bodoh”….. Bahkan beberapa kawan pria pernah berujar : “Emang betul yah….wanita yang diciptakan sempurna
(= dalam hal ini Nadine), belum tentu otaknya berisi.”

Please deh, saya koq ngerasa itu adalah pernyataan yang naif karena sangat diskriminatif gender. C’mon guys….emangnya kalo kamu kebetulan dianugrahi tampang seganteng Tora Sudiro dan punya bodi L-Men….rela gak kamu dinilai ga punya otak hanya berdasarkan fisik???? Well….Kalo saya sih, kalo ngeliat cowok yang ‘hampir sempurna’ (muka ganteng, bodi six pack, apalagi tajir!) , yg pertama terlintas di fikiran adalah: “ Dia gay gak yah??? “ :p

Bukankah ‘Isi kepala’ orang gak bisa kita ukur hanya dari tingkat akademis atau intelegensia?? Toh….masih banyak ‘kecerdasan’ lain yang bisa menunjukkan bahwa seseorang ‘berisi’. Ilmu psikologi modern pun saat ini sudah mengakui adanya EQ dan SQ untuk mengukur kualitas seseorang berdasarkan tingkat kecerdasan emosional dan spiritual. Setelah lepas dari menara gading bangku sekolahan, dan masuk ke dunia nyata , kayaknya hal itu berlaku banget buat kita semua….iya gak sih???

Menurut saya, ‘kecerdasan’ Nadine adalah pada kemauan kuat, daya juang tinggi, sensitivitas, keluwesan, serta rasa cinta tanah air dan keindonesiaan yang besar. Dengan modal seperti itu, setidaknya ia bisa jadi Public Relations (PR) dalam memperkenalkan dan memberi informasi yang benar tentang Indonesia, minimal kepada para juri dan sesama peserta ajang Miss Universe.

Siapa tau aja berkat promosi Nadine, nantinya temen-temen Nadine yg cantik-cantik itu bakal sering berkunjung ke Indonesia….Atau dengan modal kecantikan Nadine (well….like it or not, it’s her bless), mungkin aja banyak pria-pria bule sono yang ‘terhipnotis’ (dari Donald Trump sampe Donald Duck!) dan menjadikan Indonesia sebagai pilihan utama untuk dikunjungi.
Meminjam ungkapan dari judul film pendek terbaru buatan LUX yang dibintangi para mbakyu cantik Tamara Blezinsky, Luna Maya, Mariana Renata, dll : Kecantikanmu adalah Kekuatanmu.
Istilahnya kira-kira gini: Don’t hate me, because I’m beautiful….! -> yang ini sih motto saya …..hehehe….mau muntah gak loe???!!!

NADINE KU SAYANG...NADINE KU MALANG
Ada baiknya kita berterima kasih dengan usaha orang-orang seperti Nadine. Kesuksesan dia di ajang itu kan gak harus dinilai dari setinggi apa prestasi yang bisa diraihnya. Tapi juga dari bagaimana proses dan perjuangan yang udah dia lalui. Di luar imej sarang teroris, negri korup, negri miskin yg penduduknya terbelakang, dan lain-lain, masih banyak orang yang nggak tau seperti apa dan bagaimana sebenarnya negri yang (katanya) kita cintai ini.
Emang sih tugas pemerintah kita buat jadi Public Relations (PR) yg baik di dunia internasional (kan itu udh kewajibannya..!). Tapi daripada ngeluh terus ama pemerintah, setiap orang kan bisa jd PR yg baik buat Indonesia, meski cuma punya andil sekecil upil ! Nadine udah coba memberi andil, walau kontribusinya nggak diakui di sana-sini. Padahal di dunia politik kita kenal People to People Diplomacy, sebagai alat diplomasi efektif. Atau sama halnya dengan Word of Mouth yang bisa jadi alat promosi efektif di dunia Marketing.

Anyway… menurut saya, setiap orang Indonesia, apakah itu yang berwisata, bekerja (termasuk para TKI yang menjadi buruh atau TKW yg menjadi Pekerja Rumah Tangga), belajar, menikah dan tinggal di luar negri , (bahkan punya kenalan atau gebetan orang asing yg dikenal dari friendster atau dunia maya…atau dunia lain), bisa menjadi PR nya negri ini di dunia internasional secara nyata, selama itu bisa ngebantu membangun citra Indonesia yang lebih baik.

Lalu bagaimanakah dengan kita sendiri???? Daripada cuma omdo (omong doang), bisakah kita memberi kontribusi walau ‘seupil’??
Rasanya sih tidak perlu ‘menyambut’ kepulangan Nadine dengan pemberitaan dan komentar negatif yang seakan memborbardirnya . Toh, semakin sering diomongin dan diberitakan, bukankah nama Nadine bisa tambah ngetop??? Kan dia juga yang untung tuh! (anyway….Bad News is a Good News!)
Tapi….seorang Nadine kan juga manusia, yang punya hati dan punya rasa. Udah kalah di ‘medan perang’, masa balik ke negaranya pun ia harus menghadapi cemoohan yang gak abis-abis!

Coba bayangin gimana kalo kita sendiri yg berada di posisi dia ??? Kalo jadi Nadine sih, saya lebih pilih ganti kewarganegaraan Jerman aja sekalian (toh sekarang UU kewarnegaraan udah direvisi kan!) !!….CAAAAPEK DEH!!

Well….tulisan ini bukan untuk membela Nadine dan bukan juga untuk menyerang siapapun. Ini sekedar opini pribadi dari hati dan ga ada pretensi apapun.

Si Sayah – Miss Understanding 2006

NB: Pertanyaan tentang “Es krim” di awal tulisan ini adalah kejadian nyata yg pernah saya alamin sendiri di Manila, Filipina.

-July30, o6-

5 comments:

Cahyo Sukaryo said...

I couldn't have agreed more. You and I, my friend, are on the same side of the road!

Btw, your article is a beautiful short piece.

CSU
http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com

anis said...

setuju banget tuh mba ira....gw pribadi punya pendapat yg sama....kebanyakan orang cuma bisa omong doang ....nadine bhs inggrisnya jelek lah..ga 100% indonesia lah... pake baju terbuka lah........padahal kalo dipikir pikir blm tentu org yg ngomong kayak gitu punya kepintaran setaraf nadine n bisa ngewakilin indonesia di ajang luar negri...............krn pastinya perjuangan nadine supaya bisa berada pada posisi itu pastinya dilaluinya dgn perjuangan, semangat dan kemauan .......chayo lah :-)

by
anis

http://niechaanies.multiply.com

tantri said...

hai, salam kenal Mba Ira

Saya masuk ke blog ini setelah lihat url nya di pengumuman pertukaran pemuda yang diselenggarakan Menpora.

anyway, artikel-artikelnya menarik. Banyak diantaranya yang memberikan pandangan berbeda.

Untuk artikel miss-miss an ini, saya setuju bahwa Nadine tidak bisa menjadi satu-satunya yang disalahkan.

Menurut saya, kenapa banyak orang mencemooh ajang seperti ini (termasuk saya yang juga kurang setuju dengan ajang seperti ini) adalah klaim pembelaan mereka bahwa untuk bisa ikut kegiatan ini, seseorang butuh kepintaran.

Dalam artikel mbak juga ditulis, kalo ajang ini dianggap menjual fisik wanita, ya mang udah dari sononya, namanya juga ajang ratu-ratuan. Pada intinya, ajang ini memang bukan ajang adu kepintaran, tapi ajang kecantikan.

Gak bisa dipungkiri, yang dianggap sebagai "kecantikan" dalam masyarakat umum masih berdasarkan kriteria fisik. Jadi buat apa Yayasan Puteri Indonesia berulang kali mengangkat slogan 3 B (Brain, Beauty, Behaviour).

Kalau secara jujur diakui ajang ini memangt melihat kecantikan, tubuh, dan faktor fisik lainnya sebagai indikator utama (seperti hal yang terjadi selama ini), protes masyarakat mungkin tidak akan sederas kemarin.

Bahkan, mantan persenter pemilihan Putri Indonesia, Tantowi Yahya, dalam acara Save The Nation Metro TV juga mengakui hal ini. Ada kesimpulan sarkast yang muncul dari dialog tersebut saat timbul pertanyaan mengapa perempuan-perempuan cerdas tidak muncul dari acar tersebut? (bahkan persenter ANTV, Rahma Alia, yang jawabannya lebih tajam dan lebih jauh wawasannya dibanding Nadine tidak lulus sebagia putri indonesia, sebagian bilang karena tampangnya tidak sebule Nadine)

Kesimpulan yang keluar adalah: karena perempuan-perempuan yang pintar tidak tertarik mengikuti ajang kecantikan seperti itu.

waduh..waduh..ini sih memang harus dilihat lebih lanjut kebenarannya. Anyway, ini hanya sebuah pandangan dari saya. furthermore, it is fun scrolling down to yur writings. Keep on creating!!!

-Dhanny-

carissayufita said...

dear Mbak Ira, waaah artikel nya bagus. bener juga ya, orang-orang terlalu sering nyalahin orang lain, tanpa tahu sebab nya apa. terlalu hobi mengkritik. nice article mbak. i love this :)

Anonymous said...

I agreed, we should never blame her for her failure, it's not her fault entirely and she only just made ONE mistake. Itu biasa orang salah ngomong, dan aku berpikir maybe she's just nervous or maybe she's unprepared. Jadi normal saja kalau kita latah saat kaget atau merasa gugup. Sayang, banyak orang Indon yang melihat masalah dari 1 sisi saja, dengan mengabaikan segala kemungkinan atau faktor lain yang menjadi sebab akibat dari kegagalannya. I am very fortunate and proud that someone who's compassionate and strong like her was chosen to be our country's representative and don't forget, she was doing her best to promote our country to the worldwide, while we're sitting here doing nothing even to pray for her.

Baca Juga Yang Satu Ini

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...