Di 5 Lokasi di Jakarta ini, Rumah Ibadah Berbeda Agama Damai Berdampingan

Sejak berdirinya NKRI,  Indonesia telah dihuni oleh penganut agama dan kepercayaan yang beragam. Begitu pula Jakarta sebagai Ibu kota Indonesia, dibentuk oleh bercampurnya pengaruh berbagai budaya, termasuk keberagaman beragama yang hidup berdampingan sebagai wujud toleransi. 

Di Jakarta, cukup banyak didapati rumah rumah ibadah antar agama yang letaknya berhadapan, berdekatan atau bahkan berbagi tembok dan dinding yang sama, sebagai bukti kerukunan antar penganut agama sejak dahulu di kawasan tersebut.  Ada Mesjid berdampingan dengan Gereja, Wihara/Klenteng bersebelahan dengan Kuil Hindu India, atau bahkan ada Klenteng / Wihara  dan Mesjid yang disebut sebagai “saudara” karena punya hubungan yang begitu erat. 

Berikut ini 5 Lokasi di Jakarta yang memilki rumah ibadah berbeda agama, yang paling menarik versi Creative Traveler, dimana sajakah itu ? 

1.    Mesjid Istiqlal – Gereja Katedral , Gambir



(foto : sewarga.com)

Mesjid Istiqlal resmi berdiri sejak tahun 1978, sementara Gereja Katedral sudah ada sejak abad 19 di zaman penjajahan Belanda. Saat Mesjid Istiqlal akan dibangun, awalnya diusulkan lokasinya di kawasan Thamrin yang saat itu masih banyak lahan kosong yang luas. Tapi akhirnya panitia pembangunan Mesjid Istiqlal memutuskan lokasi Mesjid Istiqlal yang akan menjadi Mesjid Nasional, dibangun di Taman Wilhelmina Park   yang berhadapan dengan Gereja Katedral, salah satu alasannya sebagai simbol keharmonisan umat beragama di Indonesia.

Jadi sejak awal, pemilihan lokasi Mesjid Istiqlal yang berhadapan dengan Gereja Katedral memang direncanakan sebagai simbol toleransi beragama. Dan bukan sekedar simbol belaka, tapi juga diwujudkan  dalam praktek keseharian. Contoh kecilnya adalah saling membantu dalam penggunaan lahan parkir atau penyesuaian waktu perayaan ibadah.  

Saat perayaan Natal di tahun 2015 yang jatuh di hari Jumat, pihak Mesjid Istiqlal menyediakan lahan parkir khusus untuk umat Katolik yang akan merayakan misa natal, walaupun di hari Jumat biasanya lahan parkir  Istiqlal penuh dengan pengunjung yang akan beribadah Sholat Jumat. Begitupun saat perayaan Hari Idul Fitri tahun ini yang jatuh di hari Minggu, pihak Katedral akan merubah waktu misa hari Mingu menjadi jam 12 siang.
                                           (foto : Detik.com)

Sejarah pembangunan Istiqlal dan Katedral juga menunjukkan wujud toleransi. Istiqlal dirancang oleh Fredreich Silaban, seorang Arsitek beragama Kristen Protestan yang memenangkan lomba desain Istiqlal. Sedangkan Katedral dirancang oleh tiga bangsa. Arsiteknya adalah orang Belanda (Pastor Antonius Dijkman),  sedangkan mandor dan kepala proyeknya adalah orang orang keturunan Tionghoa, dan para kuli bangunannya adalah para pribumi. 

                     (Silaban sedang merancang , foto silaban.net)

Setiap kali membawa Tur untuk wisatawan mancanegara ke Mesjid Istiqlal/ Gereja Katedral,saya selalu bercerita tentang wujud toleransi dari kedua rumah ibadah ini, dari mulai para arsiteknya, hingga juga latar belakang lokasi keduanya yang berdekatan.  Dan cerita tentang wujudu toleransi pada Istiqlal dan Katedral ini sering membuat tamu tamu saya berdecak kagum.  Jika kita berada di  Katedral, di waktu waktu tertentu, kita bisa mendengar suara panggilan azan di kejauhan berbarengan dengan bunyi suara lonceng dari gereja. Sungguh denting harmoni yang terdengar sangat indah.

2.    Mesjid Al Muqarrabien– Gereja Manahaim, Tanjung Priok
   Mesjid Al Muqarrabien dan Gereja Manahaim terletak di Jl. Enggano, Tanjung Priok Jakarta Utara. Gereja Protestan Manahaim berdiri sejak 1957, sedangkan Mesjid Al Muqarrabien berdiri dua tahun setelahnya. Keberadaan kedua rumah ibadah yang terletak persis di depan gerbang pelabuhan Tanjung Priok begitu mencolok karena letaknya yang bersisian dan berbagi tembok dan dinding yang sama. 


Mesjid Al Muqarrabien dan Gereja Manaheim ini dekat dengan tempat tinggal saya di Tg. Priok. Tapi karena sering saya lewati sejak kecil, keberadaan dua rumah ibadah yang bersisian ini tidak istimewa bagi saya. Hingga suatu hari, saya bersama seorang kawan ekspatriat asal Filipina sedang berkunjung ke Pelabuhan Tg. Priok dan saat melintas di depan rumah ibadah ini, kawan saya tersebut terlihat takjub dan meminta turun sebentar dari mobil karena ingin memotret kedua rumah ibadah tersebut dari sebrang jalan. Dari situlah saya tersadar bahwa keberadaan kedua rumah ibadah berbeda agama ini pun sangat menarik bagi orang asing.

Menurut  pengurus gereja dan masjid disana, umat kedua rumah ibadah tidak pernah menemui masalah. Apabila ada acara keagamaan, seperti bulan suci Ramadan, Lebaran, atau Natal,  para pengurus Mesjid dan Gereja saling mendukung, bahkan mengadakan acara bersama untuk menghormati ibadah pemeluk agama yang lain. Contohnya di bulan Ramadhan, pihak gereja Manahaim menggelar buka puasa denga menyediakan takjil.

Saat Lebaran pun, pihak gereja turut membantu mempersiapkan untuk shalat Idul Fitri. Termasuk, jika shalat Ied bertepatan pada Minggu, pengurus gereja bersedia mengalah dengan cara meniadakan acara mereka. Sementara apabila pihak gereja menggelar ibadah, maka pihak pengurus masjid mempersilakan lahan parkirnya digunakan jemaat gereja. Selama puluhan tahun umat dari kedua rumah ibadah tersebut hidup damai berdampingan, sungguh indahnya.

3.    Wihara Satrya Dharma – Mesjid Jami Nurul Falah, Teluk Gong



Wihara Satrya Dharma dan Mesjid Jami Nurul Falah terletak di Jl Teluk Gong Raya no. 1, Penjaringan. Wihara Satrya Dharma sudah berdiri sejak tahun 60an, dan merupakan wihara terbesar di Jakarta saat ini, dengan luas luas sekitar 6000 m2. Sedangkan Mesjid Jami Nurul Falah yang terletak bersebelahan dengan Wihara,  baru dibangun di tahun 90an, dan pembangunannya banyak dibantu oleh pihak Wihara hingga kedua rumah ibadah disebut sebagai “Saudara”. 



Keberadaan Wihara Dharma Satya ini berawal dari seorang bermarga Kwee (Kho) yang mendapat wahyu untuk membangun sebuah kelenteng di tengah sawah. Berkat bantuan donatur, ia berhasil membangun sebuah kelenteng Kwee Goan Say yang merupakan bangunan tertua di komplek Wihara. 

Pada masa Orde Baru ada kebijakan pembatasan budaya China. Oleh karena itu,  Kelenteng dijadikan satu dengan  Wihara. Padahal, ada perbedaan mendasar antara  Kelenteng dengan Wihara. Kelenteng merupakan tempat peribadatan umat Konghucu atau Tao, sedangkan Wihara merupakan tempat ibadah umat Buddha.Tapi di zaman Orde Baru, agama Konghucu tidak diakui sebagai agama resmi, hingga penganut Konghucu harus melebur ke dalam agama Budha. 
  
Wihara Satrya Dharma dan Mesjid Nurul Falah disebut sebagai “besaudara”, karena pembangunan Masjid dibantu oleh pihak Wihara. Begitupun ketika Masjid Nurul Falah mengalami kebakaran beberapa tahun lalu, biaya perbaikan sepenuhnya ditanggung pihak Wihara. Bantuan ini juga merupakan bentuk balas budi pihak Wihara terhadap pengurus dan jemaah masjid karena ketika meletus kerusuhan Mei 1998, para pengurus dan jamaah mesjid berjaga di depan wihara. Warga sekitar  beramai ramai berjaga dan mengusir massa yang hendak merusak wihara.  Sungguh bentuk toleransi antar beragama yang tidak sekedar basi basi, tapi benar benar diwujudkan dalam aksi nyata.

4.    Pura Aditya Jaya – Mesjid Al Taqwa, Rawamangun



Pura Aditya Jaya dan Mesjid ‘Al Taqwa terletak di Jl. Daksinapati Raya, Rawamangun. . Pura Aditya Jaya berornamen Bali ini berdiri sejak tahun 1973 dan  merupakan Pura terbesar dan pertama yang didirikan di Jakarta. Setiap kali ada perayaan besar umat Hindu seperti Nyepi atau Galungan, Pura ini menjadi pusat berkumpulnya umat Hindu dari berbagai penjuru Jakarta. Sedangkan Mesjid Al Taqwa yang bersebelahan dengan Pura, dikenal sebagai Mesjid Kampus UNJ (Universitas Negri Jakarta)


                                        (foto  foto : Detik.com)

Cerita tentang keberadaan Pura di Jakarta juga menarik. Sampai tahun 50an Jakarta tidak punya rumah ibadah untuk umat Hindu. Karena itu, bersamaan dengan ide pembangunan Mesjid Istiqlal, Presiden Soekarno menggagas berdirinya Pura yang awalnya direncanakan dibangun di daerah Lapangan Banteng, berdekatan dengan Gereja Katedral. Namun karena keterbasan dana, rencana itupun terbengkalai, bahkan hingga berganti Presiden. 

Di tahun 60an saat Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI, ia mencetuskan ide untuk dibangunnya sebuah Pura pertama di Jakarta yang saat itu direncanakan di bangun di kawasan Senayan. Tapi lagi lagi rencana itu terbengkalai juga karena faktor kekurangan dana. Lalu setelah beberapa kali rencana pembangunan Pura di beberapa lokasi dari mulai Jl. Gatot Subroto, hingga Jl. MT Haryono juga gagal, akhirnya salah satu pemuka agama Hindu saat itu meminta izin untuk memakai lahan luas milik Departemen Pekerjaan Umum, yang disetujui dan lalu dihibahkan untuk lokasi pembangunan Pura pertama di Jakarta. Saat peresmian Pura ini, dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminto.

Berada di kawasan Pura ini kita seperti merasa seperti berada di Bali dengan sekitar Pura yang dipenuhi pepohonan besar yang rindang. Sebagai pusat agama hindu di tengah gemerlap kota DKI Jakarta, keberadaan Pura Aditya Jaya yang bersisian degan Masjid Al-Taqwa adalah wujud kerukunan umat beragama. Warga sekitar yang mayoritas Muslim juga mengaku selama ini tidak  pernah ada masalah selama dalam menggunakan kedua rumah ibadah itu. Menurut salah satu Pemangku Pura, selama ini selalu ada kerjasama yang baik antar pengurus Pura dan Mesjid. Seperti saat Nyepi lahan parkir Mesjid dipakai untuk pengunjung Pura, begitupun sebaliknya saat ibadah Jumatan. Memang seperti itulah semestinya toleransi diwujudkan.

5.    Wihara Satya Dharma – Kuil Shiva Mandir, Pluit

Wihara Satya Dharma dan Kuil Shiva Mandir terletak di Jl. Pluit Barat Raya. Kuil Shiva Mandir, adalah Kuil Hindu India terbesar di Jakarta yang berdiri sejak awal tahun 2000a sedangkan Wihara Satya Dharma sudah jauh lebih dulu berdiri. Walaupun merupakan rumah ibadah umat Hindu, namun penampakan Kuil Shiva Mandiri sama sekali berbeda dengan Pura, rumah ibadah Hindu yang banyak dijumpai di Indonesia.  Budaya agama Hindu di Indonesia memang cukup unik, dan banyak perbedaan dengan budaya agama Hindu India, termasuk dalam penampakan rumah ibadahnya .

Kalau kita ingin melihat seperti apa rumah ibadah Hindu India, kita bisa datang ke Kuil Shiva Mandir ini.  Penampakan Kuil Hindu yang serupa dengan Kuil Shiva Mandir ini, banyak dijumpai juga jika kita berkunjung ke negara Singapura atau Malaysia yang banyak dihiasi oleh berbagai patung dewa seperti Krisna dan Shiwa..Umat Kuil Shiva Mandir ini memang kebanyakan adalah orang orang Jakarta keturunan India. Bukan itu saja, ternyata pengunjung Kuil Shiva Mandir ini juga banyak berasal dari kaum ekspatriat keturunan India.



Sebenarnya, di kawasan Pasar Baru dan Sunter, Jakarta Utara, juga terdapat beberapa kuil Hindu India. Tapi Kuil Shiva Mandir memiliki bangunan paling besar dan memiliki patung patung dewa yang paling lengkap, hingga banyak orang Hindu India berbondong bondong ke Kuil ini, terutama jika ada perayaan besar

Beberapa bulan lalu, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Imlek, saya datang ke Kuil Shiva Mandir ini saat ada perayaan Nawagram, karena diajak oleh kawan saya, Sri Ratika, seorang penganut Hindu India. Nawagram adalah Perayaan Besar awal tahun di Kuil Shiva mandir ini untuk mendoakan keselamatan kesembilan planet (Nawa = Sembilan, Gram = Planet). Upacara Nawagram ini sendiri sangat unik, silakan baca pengalaman saya mengikuti perayaan Nawagram disini. Yang lebih unik lagi, saat mengikuti perayaan Nawagram itu saya melihat beberapa pengunjung berwajah Tionghoa. Ketika saya ajak mengobrol, baru saya tahu bahwa mereka datang ke Kuil tersebut setelah berdoa di Wihara sebelahnya. Menurut mereka, ajaran Konghucu dan Hindu India memiliki banyak kesamaan karena menyembah banyak dewa dewa, karena itu mereka terlihat khidmat saat mengikuti ritual perayaan Nawagram. 

Setelah melihat perayaan Nawagram, saya menyempatkan mengunjugi Wihara Satya Dharma di sebelahnya dan melihat para umat rumah ibadah tersebut sedang melepas burung burung sebagai bagian dari ritual mendatangkan karma baik. Saya sempat mengobrol dengan beberapa ibu ibu pengurus Wihara yang ternyata beragama Muslim dan sudah puluhan tahun bekerja disana, dan setiap perayaan hari besar Imlek, para pengurus Wihara ikut bersuka cita karena di hari itu biasanya mereka akan mendapatkan banyak hadiah uang dari para pengunjung yang datang untuk beribadah. 



Selain di 5 lokasi tersebut, masih banyak lagi rumah rumah ibadah antar agama yang letaknya berdekatan di Jakarta. Ada juga kawasan di Jakarta dimana hanya dalam radius 1 km,  ada berbagai rumah ibadah lokasinya berdekatan. Seperti di Kawasan Pasar Baru ada 6 rumah ibadah (Kuil Hare Kresna, Kuil Sai Baba, Mesjid Pasar Baru, Kuil Sikh, Klenteng Sin Tek Bio, dan Gereja Ayam), atau di Cilincing (Klenteng dan Wihara Lalitavistara, Pura Segara, Mesjid Al Alam) atau di kawasan Taman Mini Indonesia Indah yang ada berbagai rumah ibadah dari 6 agama resmi di Indonesia yang letaknya berdekatan sebagai wujud toleransi dan kehidupan kerukunan beragama di Jakarta.

Justru Jakarta menjadi kaya karena begitu beragamnya pengaruh budaya yang membentuknya. Dan memang sudah semestinya seseorang yang mengaku beragama harus mewujudkan ketaatannya dalam beragama dengan mewujudkan toleransi yang tinggi terhadap penganut agama lain. Seperti pernah dikatakan oleh seorang Gus Dur,  “Semakin tinggi ilmu seorang, semakin tinggi tingkat toleransinya.”

5 Kuliner Jadul Yang Harus Dicoba di Jl. Suryakencana Bogor


Jalan Jalan ke Bogor emang ga bisa lepas dengan yang namanya dengan Wisata Kuliner. Kota Bogor dikenal sering menghasilkan ragam kuliner kekinian yg jadi ngehits, dari mulai Makaroni Panggang, Brownies Talas, hingga yang terbaru adalah Rain Cake kreasi artis Shireen Sungkar.

                    (Gerbang menuju Jl. Suryakencana)

Salah satu kawasan yang terkenal sebagai surga kuliner di Bogor adalah Jl. Suryakencana, yang terkenal dengan kawasan China Town –nya Bogor. Yang spesial di kawasan ini, juga banyak ditemui berbagai kuliner jadul, yang mungkin sudah sulit kita temui di tempat lain. Kalau berwisata kuliner di Bogor, selain berburu jajanan kekinian yg lagi ngehits, seru juga berburu kuliner jadulnya.

Ini dia top 5 Kuliner Jadul versi Creative Traveler, yang kudu kamu coba di sepanjang Jl.Suryakencana, Bogor

1.Dodongkal 

Ini Jajanan jadul khas Sunda, terbuat dari talas, tepung beras dan ditabur gula merah seabrek abrek, rasa manisnya unik banget! Seporsinya cuma 10rb perak,tapi ngenyangin banget! 

Dodongkal ini disajikan diatas daun pisang dan ditaburi parutan kelapa dan gula merah. Makanan ini dahulu banyak ditemui di beberapa daerah Jawa Barat, seperti Bandung, Sukabumi, Cianjur dan Bogor. Di Bandung , Dodongkal dikenal dengan nama Awug. Dahulu, Dodongkal biasa disajikan bersama secangkir teh sebagai kudapan sore hari.
 
Saat ini, Dodongkal termasuk jenis kuliner jadul yang sudah jarang dijajakan di kaki lima, tp kalo mau cari Dodongkal ini di Bogor masih ada di sepanjang jalan Surya Kencana, tepatnya dekat Gang Aut .


2. Es Bir Kocok 



Saya pikir Es Bir Kocok ini sama dengan Bir Pletok asal Betawi ternyata beda. Es Bir Kocok Ini Minuman tradisional khas Bogor yg terbuat dari jahe, kayu manis dan gula aren.

Walaupun namanya "Bir", tapi minuman ini gak mengandung alkohol sama sekali. Lalu kenapa namanya bir kocok? Karena saat bikinnya kudu dikocok kocok,trus habis dikocok ada busa jadi deh keliatan kayak bir. Secara visual,  Es Bir Kocok memang menyerupai Bir yang mengandung alkohol. Warna kuning gelap Bir Kocok berasal dari bubuk kayu Manis bercampur dengan cengkeh, gula, dan jahe. Lalu ketika semuanya dikocok dengan semangat di sebuah tabung stainless steel, keluarlah busa berwarna putih, menyerupai minuman Bir dingin dalam gelas yang banyak disajikan di kafe kafe.
 
Minuman Es Bir Kocok banyak dijual di sepanjang Jl.surya kencana,harganya cuma goceng dan mangtab diminum siang bolong. Kalo ke Bogor jangan lupa cari Bir Kocok ini!

3. Aneka Pepes Sagu 



Saya nemu penjual makanan unik ini gak sengaja saat lagi berhenti sebentar deket Gang Aut, eh liat ada mobil yg jual aneka pepes dari mulai aneka pepes ikan (ikan kembung,nila,tenggiri dll ) pepes pisang coklat, Pepes pisang keju, Pepes nangka dll.. 

Saya pikir unik juga nih, biasanya pepes itu kan adanya isi ikan,jamur, tahu, atau yang gurih. Tapi ini ada pisang di pepes isi coklat dan keju pula. Rata rata pepes harganya 7rb-15rb, saya cobain yg Pepes pisang dan nangka,rasanya mirip ketimus cuma ini lebih manis dan coklatnya lumer di lidah..walaupun pepes ini cuma gerobakan di pinggir jalan, tapi kata si penjualnya ,pepes buatannya udah sering diulas di banyak acara kuliner di tipih..widih kok keren sih

4. Asinan Jagung Bakar 



Kalau biasanya jalan jalan ke Bogor orang cari Asinan sayur...nah yang ini juga Asinan khas Bogor yang unik, isinya jagung bakar dan dipakein cuka spt Asinan biasa..jagungnya harus dibakar dulu baru dicampur dengan cuka asinan dan dimakannya pake krupuk Tambah mantab..Asinan Jagung Bakar ini seporsi 15rb dan banyak ditemukan di ujung Gang Aut.

Salah satu penjual Asinan Jagung Bakar di Jl. Suryakencana adalah Pak Sabur (56 th) yang sudah berjualan asinan sejak tahun 1980. Ia juga meneruskan usaha keluarga yang berjualan asinan Jagung Bakar sejak tahun 60-an. Jadi resep Asinan Pak Sabur adalah  resep yang diperoleh turun temurun. Menurut Pak Sabur, banyak langganan yang datang berasal dari Bekasi, Bandung hingga Sukabumi.


5. Lumpia Bogor 





Tadinya saya pikir Lumpia Bogor ini sama dengan Lumpia Bandung ternyata beda. Lumpia Bogor ini lebih mirip dengan Lumpia Basah asal Semarang . Ciri khas Lumpia Bogor ini adalah isi bengkoang dan sayur sayuran dan dimasak dengan cara dibakar. 

Cara memasaknya pun masih menggunakan tungku dan arang, membuat rasanya jadi sedikit berbeda dengan lumpia-lumpia basah yang lain. Yang membedakan Isi Lumpia Bogor dan Lumpiah Basah Semarang adalah  Lumpia Bogor menggunakan Bengkoang, sedangkan Lumpia Semarang isinya rebung. Saat isi lumpia ditumis, bau harumnya kemana mana dan menggoda setiap pejalan kaki yang melintas.

Salah satu penjual Lumpia Basah Bogor di Jl. Suryakecana adalah Pak Alen namanya yang sudah berjualan sejak tahun 1972. Beliau juga bercerita bahwa sampai saat ini dia mempunyai banyak pelanggan yang tetap setia membeli lumpianya dari zaman dulu hanya 50 perak sampai sekarang sudah Rp 8.000...wuiih mungkin juga  pelanggannya Pak Alen sudah turun menurun antar generasi tuh. 

Nah Gimana sudah siap berburu kuliner jadul saat jalan jalan ke Bogor liburan ini?? 






1.Dodongkal Ini Jajanan jadul khas Sunda, terbuat dari tales, tepung beras dan ditaburgula merah seabrek abrek,rasa manisnya unik banget! Seporsinya cuma 10rb perak,tapi ngenyangin banget! Dodongkal ini jenis kuliner jadul yang skr jarangditemui, tp kalo mau cari Dodongkal ini di Bogor msh ada di sepanjang jalanSurya Kencana dekat Gang Aut Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi 2. Es Bir Kocok Saya pikir Es Bir Kocok ini sama dengan Bir Pletok asal Betawi ternyata beda. Es Bir Kocok Ini Minuman tradisional khas Bogor yg terbuat dari jahe, kayu manis dan gula aren.Knp namanya bir kocok? Krn bikinnya kudu dikocok2,trus hbs dikocok ada busa jd deh kliatan kyk bir. Minuman ini byk dijualdi spanjang Jl.surya kencana,harga cuma goceng dan mangtab diminum siang bolonggini. Kalo ke Bogor jgn lupa cari Bir Kocok ini! Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi 17098445-10210098523792768-6042327665928930295-n-58c963a9c323bd423750c2b8.jpg 17098445-10210098523792768-6042327665928930295-n-58c963a9c323bd423750c2b8.jpg 3. Aneka Pepes Sagu Saya neemu penjual makanan unik ini gak sengaja saat lagi berhent sebentardeket Gang Aut, eh liat ada mobil yg jual aneka pepes dari mulai aneka pepesikan (ikan kembung,nila,tenggiri dll ) pepes pisang coklat, Pepes pisang keju, Pepes nangka dll.. Saya pikir unik juga nih, biasanya pepes itu kan adanya isi ikan,jamur, tahu, atau yang gurih. Tapi ini ada pisang di pepes isi coklat dan keju pula. ata rata pepes harganya 7rb-15rb, sy cobain yg Pepes pisang dan nangka,rasanya mirip ketimus cuma ini lbh manis dan coklatnya lumer di lidah..walaupun pepes ini cuma gerobakan di pinggir jalan, tp kata si penjualnya ,pepes buatannya udh sering diulas di byk acara kuliner di tipih..widih kok keren sih Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi 17098472-10210089585569318-7727936845809797426-n-58c962de927e612808dcec21.jpg 17098472-10210089585569318-7727936845809797426-n-58c962de927e612808dcec21.jpg 4. Asinan Jagung Bakar Kalo biasanya ke Bogor orang cari Asinan sayur...nah yg ini juga Asinan khasBogor yg unik, isinya jagung bakar dan dipakein cuka spt Asinan biasa..jagungnya harus dibakar dulu baru dicampur dengan cuka asinan dan dimakannya pake krupuk Tambah mantab..Asinan Jagung Bakar ini seporsi 15rb dan byk ditemukan di ujung Gang Aut Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi Dokumentasi pribadi 5. Lumpia Bogor Tadinya saya pikir Lumpia Bogor ini sama dengan Lumpia Bandungternyata beda. Lumpia Bogor ini lebih mirip dengan Lumpia Basah asal Semarang.Isi Lumpia Bogor ini adalah bengkoang dan sayur sayuran dan bikinnya dengan dibakar. 17155969-10210134198804621-4888040568806817866-n-58c9633e5693736d3d5ef3a8.jpg 17155969-10210134198804621-4888040568806817866-n-58c9633e5693736d3d5ef3a8.jpg 17201320-10210134200044652-6209485848500499196-n-58c9635fc323bdb43850c2ba.jpg 17201320-10210134200044652-6209485848500499196-n-58c9635fc323bdb43850c2ba.jpg Dengan perut begitu kekanyangan dan muka yang sumringah, saya dan teman2 KPK pun bersiap kembali ke Jakarta menaiki kereta, dan menggunakan kartu Danamon Flazz yanyar hadiah dari Bank Danamon....What a Happy Day !

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iralathief/kpk-trip-to-bogor-dan-5-kuliner-yang-harus-dicoba-di-jalan-suryakencana_58c95e5a55977327129f2f9d

Recent Posts

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...